mychoice

my choise make me life

Pohon Yang Berbuah Dalam Hati

Materi tidaklah menjamin kebahagiaan hidup, harga diri, usaha dan keinginan berguna untuk sesame mempunyai nlai lebih. Bukan berarti materi tak penting, hanya saja materi bukanlah segala-segalanya.

“Tak ada proses yang instan, semuanya butuh waktu dan komitmen”, terimakasih atas cara pandang ini. Kau mengajarkan kami nilai yang berharga dalam hidup, bukan dengan kata saja melainkan langsung ketindakan yang dapat langsung kami alami. Mungkin dahulu kami hanya menjalankan perintah saja, namun sekarang kami pelan-pelan menyadari bahwa semuanya itu ada maksd dan tujuan untuk meyadarkan kami. Proses yang melelahkan itu harus kami jalani untuk benar-benar paham dan tertanam dalam jiwa kami arti dari sebuah usaha dan proses.

Salah satu adalah dalam hal marbawang (bertani bawang), engkau mengajarkan kami mulai dari manuan bawang sampai pada maronan (penjualan) ke haranggaol atau onan baru pangururan, dari sini kami mengerti tahapan proses dan pentinggnya kesabaran.
Ketika dimulai dari manggikgis (membersihkan lahan) kadang kami menggerutu di belakangmu, kadang kami menunjukkan muka tidak bersahabat ketika tdak engkau perhatikan. Mungkin kau tahu, tapi kau tetap sadar untuk kami. Setalah lahannya disiapkan sekarang adalah saatnya manuan bawang (menanam), saat ini kau mengajari kami untuk mempunyai harapan dan impian semoga bawang ini Tumbuh subuh.

Dulu aku berpikir kenapa bawang ini tidak langsung dijual saja, ko malah dimasukkan ke dalam tanah. Akan tetapi seiring proses berlalu aku mengerti bahwasannya itu adalah proses penciptaan nilai yag baru ataupun penambahan nilai. Kalau tidak ditanam, darimana kita bisa panen ? Pada saat mencabut (panen) aku baru benar-benar menyadari karna dilihat mata bahwa nilainya telah bertambah. Tiga bulan yang lalu dimasukkan ke tanah satu atau dua suing bawang, saat ini yang aku cabut ada yang 3-12 siung bawang dengan ukuran yang lebih besar.

Ketika bawang ditanam bukan berarti 3 bulan kemudian akan otomatis bisa dipanen, tetap ada proses yang harus dilakukan. Pagi-pagi buta sebelum sekolah harus ke juma (ladang) untuk menyemprot, walau hal ini tidak lama kulaksanakan. Masih harus marbabo/menyiangi, harus member pupuk.
Bahkan ketika panen bukan berarti langsung bisa dijadikan uang, tetap saja masih ada poses yang harus dilaksanakan. Masih lagi harus mangisip (memotong urat dan daunnya) sehingga yang tinggal adalah Umbi lapisnya.

Engkau juga mengajari bahwa jangan semua dijual walaupun harga sagat bagus/ harga tinggi, tetap harus ada disisakan untuk dibuat dipara-para dan dijadikan bibit.

Ayah
Kami sangat mencintaimu,
Sangat sayang padamu,
Dari lubuk hati kami yang terdalam meminta maaf atas segala kesalahan kami semua, semua yang engkau tingalkan

******

Maafkan aku yang telah salah berpikir tentang dirimu, maafkan aku yang tidak bisa mengikuti alur pikiranmu.
Dulu aku berharap ayah memberiku ucapan selamat karena menurutku bahwa aku telah membuat ayah bangga, aku telah berbakti pada orang tua. Saat itu aku lulus disemua test seleksi masuk perguruan tinggi mulai dari UGM, STT Telkom, ITB, STAN. Namun engkau menyadarkan aku bahwasanya ada yang lebih penting.

Saat itu engkau masih disibukkan degan kegiatanmu keluar masuk desa, kesana-kemari dengan segala urusan yang menurutku tak penting,menjadi fasilitator desa, entah jabatan apa itu pikirku yang sudah jelas-jelas tak bergaji. Saat itu kesibukanmu dalam pemberdayaan membuat kita jauh, bahkan jarang saling menyapa.

Saat ini aku sadari ajaran baikmu, tak ada yang perlu dibanggakan dengan semua itu ketika engkau belum mampu berguna untuk sesamamu. Masalah terbesar adalahbagaiman supaya berguna buat sesamamu, itulah yang aku dapat darimu. Sekarang aku baru bisa memahami kenapa dirimu lebih banyak bergaul dengan mereka yang bertani, Kau mengajari kami dengan cara yag berbeda dalam memaknai hidup.

Mungkin konsistensimu dan kekanak-kanakanku saat itu yang membuat kita jauh, maafkan untuk segala keterlambatan ini.

Ayah
Terimakasih untuk segala yang engkau berikan, terimakasih atas segala jasa-jasamu. Kami semua sangat menyayangimu, kami sangat merindukanmu
Ayah,
Kami sangat bangga padamu, kami sangat mencintaimu, jujur dalam hati ada perasaan belum rela melepas kepergianmu. Tapi kami percaya akan kuasa-Nya. Semoga Sang Pencipta memberi tempat disisi-NYA.
Selamat Jalan Ayah……

*Mengenang tujuh bulan Pejalanan Ayah kami menemui sang Pencipta…

Oktober 13, 2010 - Posted by | Ayah, carpe diem, Keluarga, pemikiran, pendidikan, perubahan, samosir

1 Komentar »

  1. Kamu beruntung punya bapa yg luar biasa,.
    Walau bapa q g sehebt bapa mu,tp q merasa semua predikat seorang ayah luar biasa,.
    Bapa mu pasti bangga pdmu.

    Komentar oleh NN | Desember 2, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: