mychoice

my choise make me life

cerita seorang sahabat tentang bona pasogit

Iban….

Aku udah wisuda dan sekarang kerja di PT INDOFOOD Medan.

Kau tahu kenapa aku bilang bahwa dirimu makin matang????

Karena dalam tulisan2 mu di blog itu, juga mengenai semua pemikiran2 itu, aku sungguh merasakan kecintaan mu pada tanah kelahiranmu, bona pasogit kita. maukah kau mendengar ceritaku tentang perjalananku disana??

Akhir januari lalu aku baru saja dari pangururan, biasalah ada tugas dari kantor untuk survey ke kantor cabang disana..

Aku berangkat waktu itu via tele, kau tau itulah untuk pertama kalinya aku melewatinya. Selaksa kekaguman terukir ketika aku melihat pemandangan disana, kata orang lewat tele itu ngeri dan terjal tapi sekarang jalannya jauh lebih lebar dan aku sungguh menikmatinya.

Namun membaca tulisanmu yg terakhir itu tentang pembalakan hutan2 disana untuk menjadi taman bunga maka aku jadi merasa ngeri sekali. Aku yang kurang update info atau bagaimana namun yg jelas aku gak tahu bahwa keadaan nya sudah separah itu. Iban, aku masih ingin bahwa view itu masih tetap milik kita….

Aku berada disana selama tiga hari. Waktu yg singkat untuk mengenal kota yg sudah 11 tahun lebih tidak kujalani. Ya, kami memang sudah lama tidak pulang kampung karena oppungku sekarang tinggal bersama kami di siantar. Ada kerinduan untuk kembali ke kampung oppung di salaon dolok, kuingat kembali saat kecilku liburan disana. Mandi di sungai yg jernih, dikejar2 kerbau, lalu memetik markisa belanda yg ada di ladang oppung. Itu kualami terakhir kali ketika aku masih di SD KELAS IV. Tapi kenangan itu tak pernah pudar dari ingatan..

Selesai melakukan tugas dari kantor ku, kusempatkan menjalani rumah namboru dari oppung bersaudara (oppung martinodohon). Hanya berbekal ingatan akan nama yg sempat terucapkan bapa ku waktu aku pulang ke rumah di siantar. “namboru mu itu tinggal di dekat kantor dinas pengairan di daerah Buhit Pangururan”. Dari Hotel Tiga Besar tempatku menginap aku naik becak dan menyebutkan untuk diantar ke tempat yang kutuju. Lalu sesampainya disana, memang aku tidak lagi mengenal lokasi tersebut tapi aku masih bisa mengenal wangi yg khas itu. Wangi rebusan kacang kedelai untuk pembuatan tahu. Namboruku memang punya usaha pembuatan tahu. Wangi itulah yg menuntunku untuk mengenali rumah namboru karena memang rumah itu agak sedikit berubah. Ah, tapi tempat tahu itu masih seperti yg dul. Lalu ingatan akan masa kecilku flash lagi ketika namboruku memberi ku minum air perasan tahu yg dicampur gula, lalu ketika aku dan adik2ku berebutan untuk memakan tahu yg baru matang..Rasa tahu itu masih tetap melekat di lidahku, rasa khas tahu buatan sendiri.

Aku masih mengenal wanita yang sedang bekerja di tempat tahu itu, itu namboruku. “namboru na disi do namboru?”. Sontak dia menengadah dan memandang ke luar, dan berlari memelukku. Dia masih mengenalku…..aku begitu terharu. Tapi adik2 sepupu ku sangat merasa asing denganku. Kusadari bahwa memang kami jarang bertemu. Lalu ketika amang boru datang dan semua keluarga berkumpul, kami pun bercerita bersama sambil minum kopi dan menikmati penganan yg sengaja kubawa dari medan. Huh…..semilir angin danau bercampur dengan aroma tahu sangat mengasyikkan untuk dihirup. Inilah udara yg selama ini sangat kurindukan. Udara dan angin dari bona pasogitku…..

Keesokannya adalah hari minggu,namboru menyarankan aku untuk mengunjungi rumah oppung di Salaon Dolok karena aku sudah lama tidak kesana. Lagian aku masih tetap tinggal disana sampai hari senin yg kebetulan adalah hari libur karena hari raya imlek…dan lagi aku juga sudah lama tidak menginjak rumah oppung, rumah kelahiran bapaku, disana masih ada namboru (ito bapa). Sebenarnya aku pun berniat begitu, namun aku takut mengutarakan karena yg aku ingat bahwa jalan ke rumah oppung sangat buruk dan aku gak mau merepotkan keluarga untuk mengantarku kesana, apalagi tak ada ortu bersama ku disana. Aku mengingat bahwa aku akan seperti orang buta yg meraba2 jalan. Namun sebelum aku utarakan maksudku, eh namboru mengusulkannya bahkan menawarkan agar paribanku yg mengantar ke Dolok (sebutan untuk kampung oppung). Aku pun menyetujui usul namboru dan aku berpikir bahwa tondi oppung memang memanggilku untuk mengunjunginya. Lalu aku kembali ke hotel, padahal namboru udah memaksa aku untuk menginap di rumahnya. Tapi aku berjanji akan menginap keesokan harinya..

Setelah pulang gereja di ST.MIKHAEL aku pun bergegas ke rumah namboru. Namun namboru lagi ke gereja, dan aku hanya menemukan paribanku di rumah. Lalu aku teringat kebiasaan mama ku ketika pulang ke dolok, atau ketiak tetangga dari dolok datang ke rumah di siantar, maka mama akan selalu menitipkan sembako dan kue2 untuk namboru di dolok. Mengikut kebiasaan mama itu, maka aku paksa paribanku untuk menemani ku ke pasar dan belakangan ku tahu bahwa mereka menyebutnya “tajur”.Walaupun aku gak tahu menawar harga2 bahan2 itu tapi dengan kualitas bahasa batak yg tak seberapa kucoba juga untuk melakukan kegitan tawar-menawar. Kami berbelanja kue2 dan bahan2 makanan untuk dibawa ke dolok

lalu aku dan paribanku berangkat. Ketika mulai mendaki rasa haru meyelimuti hatiku, tak terasa air mata mengalir. Betapa tidak, jalan yg kulalui sangat terjal, berbatu dan rusak parah. Beberapa kali sepeda motor kami hampir terjatuh karena ban nya selip dengan runcing bebatuan atau pun lumpur. Maklum lah saat itu memang musim hujan. Aku berusaha menghadirkan bayangan saat2 bapa ku muda dulu ketika dia melewati jalan ini untuk menimba ilmu dari rantau lalu kembali ke kampung dengan berjalan kaki. Betapa perjalanan yg melelahkan. Di kiri kanan jalan terkadang kami berjumpa dengan beberapa orang dewasa atau anak2 yg berjalan kaki smabil membawa cangkul, kayu atau yg lainnya. Huh….aku menangis dalam hati. Hidup yg penuh perjuangan. Tapi hatiku sedikit terobati ketika melihat pemandangan daerah Parsopoan. Tiba2 aku berujar kepada paribanku yg kebetulan fasih b.indonesia, “nanti kalau aku menikah,aku mau buat foto pernikahan dengan latar hutan2 itu”, dia bertanya kenapa aku memilih daerah itu??aku hanya diam dan menyimpan jawaban itu dalam hatiku, namun dia berjanji akan menjaga daerah itu untukku sampai tiba saatnya nanti aku menikah.

Ketika sampai di kampung oppung, aku hampir tidak mengenali lagi daerah itu. Banyak yg berubah. Ada penambahan beberapa rumah. Kulangkahkan kaki memasuki jalan masuk ke kampung itu, aku memang tidak lagi terlalu mengingat detail kampung oppung tapi aku masih mengingat rumah masa kecil itu. Paribanku masih berbicara dengan beberapa tetangga dan aku terus melangkah. Aku berdiri di depan sebuah rumah dengan tangga nya yang sudah tua. Inilah rumah itu, rumah kelahiran bapaku, rumah oppungku yg sebelas tahun lalu kutinggalkan dengan segenap kenangannya. Aku masih ingat amben (pattar-pattar) di sisi rumah, pattar-pattra tempat aku mandi dengan air hangat yg disediakan namboru ketika aku merasa kedinginan dan tak mampu mandi di sungai. Tapi pattar itu telah menjadi gudang barang. Selain itu tak ada yg berubah dari rumah kecil berbentuk letter L itu. Aku mulai menaiki tangganya satu persatu diiringi derai air mata. Betapa tidak terbayangkan bahwa aku bisa kembali ke rumah yg sudah 11 tahun ini selalu kurindukan dalam ingatanku. Aku melihat seorang wanita sedang mengambil (menakkar) kopi dari ember.aku tahu itu pasti namboruku. “Namboru………”, spontan dia menoleh, dia masih mengenal suaraku walaupun cahaya dalam rumah itu sangat gelap. “Na ro do ho anggi……!!!”. Dia memelukku sambil menangis, lalu membimbingku ke belakang, duduk dekat para2, tempat kesukaanku karena di situ aku bisa minum kopi sambil makan kue dan menikmati hangatnya perapian. Kami bercerita panjang lebar dan aku menyerahkan barang yg kubawa kepada namboru untuk disimpan. Namboru memarahiku karena repot membawa segalanya itu. Lalu dia membongkar bawaan itu untuk disimpan lalu berkata,”amang tahe, nunga songon ina-ina si jenni on, rikkot hian, diboan sude. Diboto do dang adong manang aha laho allangon di huta.” (si jenni sudah seperti ibu-ibu, dia tahu bahwa di kampung gak ada apapun yg bisa dimakan). Tapi memang aku syukuri bahwa mama menunjukkan teladan yg baik dalam berhadapan dengan keluarga. Sehingga aku mengikuti cara2 mamaku. Hatiku kembali trenyuh ketika menemukan bahwa lauk yg ada di rumah namboruku hanya gulamo dalam stoples. Ah sedih hatiku………kopi juga belum panen.

Lalu tetangga berdatangan, mereka yg selama ini hanya mengenal namaku tapi tak pernah lagi melihat wajahku. Kue-kue yg kubawa pun dibuka untuk disajikan namun terlebih dahulu disusun dalam sebuah piring untuk didoakan kepada tondi (arwah) oppung boru yg tidak pernah kukenal karena ketika aku lahir oppung boru telah meninggal.

“Inang, nunga ro pahompu mu si Jenni. Dibohan do kue-kue, las ma partondian mu da inang!”(ibu, cucu mu jenni telah datang, dia membawa kue-kue. Bersukacitalah hati roh ibu menerimanya). Aku menagis sejadi2nya, kupikir bahwa selama perjalanan ku di bona pasogit, hatiku terlalu melankolis dan cengeng sehingga terlalu banyak menangis. Atau inikah efek kerinduan selama 11 tahun ini???

aku menangis karena memang aku sangat merindukan oppung boru untuk bisa bermanja2 dalam gendongan tangannya, bercerita tentang kisah cita, cintaku. Aku memang bisa bercerita kepada mama tapi bercerita dengan oppung boru pasti akan memberi kesan tersendiri. Aku merasa bersalah karena baru bisa mengunjungi rumah oppung setelah 11 tahun. “oppung…masihol au tu jabu mon oppung. Nunga songonon sonari pahompu mon oppung, alai dan ibereng ho be oppung. Alai las rohakku tondim torus do manggomgom au” ( oppung….aku rindu kembali ke rumahmu.terima kasih oppung bahwa kau selalu menyertaiku sehingga aku bisa seperti sekarang ini).

Setelah itu baru lah kue-kue bisa dibagikan dan dimakan tamu-tamu yg hadir. Rumah oppung ku penuh dengan saudara2 dan kerabat yg berkunjung. Senangnya hatiku berjumpa dn berkenalan dengan mereka. Ternyata banyak saudara yg belum kukenal. Aku tahu bahwa mereka kurang fasih berbahasa indonesia maka dengan kemampuan seadanya kuusahakan agar berbicara dengan bahasa batak, bahasa darahku……..ketika aku kurang mengerti arti kata tertentu aku tidak segan untuk bertanya karena aku ingin memperkaya kemampuan bahasa batakku juga agar mereka tidak kesulitan berbicara denganku. Aku malu sebagai orang batak kalau tidak mengerti bahasa sendiri. Aku selalu berpegang pada nasihat bapaku, “inang kau itu boru batak, boru ni raja. Molo boru ni raja ingkon do mangantusi di adat na manang bahasa na.!” (boru batak itu adalah putri raja maka harus mengerti adat dan bahasanya). Lalu namboru ku menyembelih ayam dan diatur untukku. Aku kembali trenyuh karena dalam segala kesederhanaan aku mendapat perlakuan istimewa disana. Di kampung kelahiran bapaku, di tanah yg kucintai.

Sedih harus berpisah dengan mereka. Terasa sangat singkat waktu. Tapi aku harus pulang ke buhit karena besok nya aku harus balik ke medan dan bekerja seperti biasa lagi. Aku berpamitan dengan semua orang lalu menapaki lagi jalan yg sama tapi kali ini dengan hati bersukacita karena aku telah melihat tanah bona pasogitku. Sekaligus timbul harap dan janji lagi untuk bisa kembali kesana dan tinggal untuk waktu yg lebih lama lagi.

Malamnya namboru di buhit mengajak aku ke tempat pemandian air hangat. Terasa akrab suasana kekeluargaan waktu itu karena aku juga sudah mulai dekat dengan saudara2 yg lain. Aku membayangkan seandainya mama bapaku, juga adik2ku ada disini bersama ku pasti lengkaplah kegembiraanku. Bersama mereka di tanah kelahiran bapaku. Bona pasogit kami…….

Keesokan harinya aku kembali ke medan…..hatiku merasa sedikit terpuaskan dengan kunjunganku yg singkat itu walaupun karena adanya tugas kantor maka aku bisa ada disana. Tapi aku bersyukur bahwa momen itu masih bisa menjadi milikku. Maka kini kau tahu kan kenapa aku sangat mncintai tanah itu. Karena tanah itu mengingatkanku pada segala kenangan yg pernah terukir dalam hidupku, juga segalanya yg membuat seorang Jenni Ivanna Malau ada saat ini.

iban….sekarang kau juga tahu kan alasanku mencintai tanah itu.

lalu entah apa pun yg bisa kubantu selama aku bisa membantu baik itu mengenai perjuangan mu dan teman2 toba dreams atau yg lainnya, maka aku akan coba bantu.

ini no hp ku.

0812607768XX

08566600XX

oh ya iban, aku juga perlu bantuan mu tentang satu hal. kalau kau sudah baca email ku maka tolong info ya!!!!

GBU

Februari 24, 2009 - Posted by | carpe diem, daerah, medan, pemikiran, pendidikan, samosir

1 Komentar »

  1. sebelumnya saya minta maaf, apabila ada kata-kata yang tidak berkenan di hati teman-teman saat membaca komentar saya. ini bukan komentar, tapi sekedar berbagi/sharing ilmu dan impian saya pada Samosir.
    Saya ingin bermaksud memberi sedikit masukan serta kritik tentang hutan tele di Samosir yang sedikit sudah menjadi Taman bunga…
    Pertama saya mendengar program ini memang bagus dan briliant, tapi menurut saya wilayah dan tempat pembuatan Taman bunga ini kurang tepat sekali di daerah tele yang kita tahu daerahnya begitu terjal dan rawan akan longsor…
    Saat saya pulang tahun 2008 silam, saya melihat ada longsor di pinggir jalan tele, longsor ini merusak setengah jalan aspal yang sudah diperbaiki. Waktu itu proses perbaikan jalan juga belum selesai. Kenapa bisa longsor???? setelah aku perhatikan tanah dan lingkungan disekitarnya, ternyata memang pohon-pohon disekitar jalan itu tidak ada, mungkin sudah ditebang untuk memperlebar jalan.

    Seharusnya di tebing curam daerah tele, Pohon-pohonlah yang seharusnya banyak ditanam dan dirawat sampai bisa tumbuh dan meyakinkan untuk hidup. Ok lah, tidak semua pohon bisa tumbuh, pohon pinus yang memungkinkan untuk bisa tumbuh dan mampu bertumbuh dijenis tanah bercampur batu-batu….akan tapi jaman sekarang kan sudah berkembang teknologi dan penelitian-penelitian dibidang kehutanan,,
    seperti Ilmu KOnservasi sumberdaya HUtan, Budidaya Hutan/Silvikultur, Teknologi Hasil Hutan, dan Manajemen Hutan.
    Aku memiliki satu impian untuk samosir, Kelak aku akan membantu Visi dan Misi Pemkab Samosir untuk menjadikan Samosir sebagai Centre Toirism yang berbasis Konservasi, tanpa ada kerusakan lingkungan. Teman-teman sekalian mohon dukungan doa dan saran serta ide-ide yang briliant yah agar Samosir kita berkembang namun tetap terjaga kealamiannya.
    Terimakasih atas perhatiannya.God Bless Us

    Raja:
    Semoga impiannya cepat tercapai dan terlaksana

    Komentar oleh Evenin Rosa Naibaho | Agustus 18, 2010 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

Logo WordPress.com

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Gambar Twitter

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Foto Facebook

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Foto Google+

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

%d blogger menyukai ini: