mychoice

my choise make me life

TRY OUT UAN SNMPTN SMA Se KABUPATEN SAMOSIR

Yang terpenting bukanlah “apa yang yang kita ketahui” melainkan “bagaimana kita mengetahuinya”

Aristotle

Latar Belakang

Pendidikan adalah sebuah proses untuk mengembangkan pengetahuan, keahlian dan karakter dari individu baik secara ide maupun eksperimen. Tugas utama dari pendidikan tersebut ialah menanamkan keinginan belajar dan memberikan fasilitas untuk belajar, sehingga keadaan ini akan menghasilkan individu yang akan selalu belajar, dan bukan individu yang tidak belajar lagi setelah individu tersebut menyelesaikan proses pendidikan.

Setiap tahun, masyarakat baik siswa, guru, pemerintah, berhak untuk berevaluasi atas pendidikan di Negara kita, sudahkah mencapai taraf memajukan negara di ranah positif ataukah masih jalan di tempat. Kita boleh melihat pengalaman negara Amerika Serikat yang meninjau kembali seluruh kurikulum sekolah dari sekolah dasar hingga sekolah perguruan tinggi, meninjau kualitas guru, meninjau mata pelajaran, meninjau proses seleksi siswa, meninjau sistem evaluasi pembelajaran. Semua dilakukan oleh AS ketika Unisoviet berhasil meluncurkan satelit Spotnic, 4 oktober 1957.

Sebuah tamparan yang sangat keras bagi AS di saat perang dingin terjadi. Amerika berani mengambil revolusi dengan risiko yang sangat tinggi. Namun, usaha yang berisiko ini membuakan hasil yang luar biasa, Amerika Serikat berhasil meluncurkan manusia pertama yang menginjak bulan dengan satelitnya pada 14 juli 1969. Tidak jauh beda dengan negara Jepang pascaledakan bom atom di dua kota di tahun 1945. Negara yang kalah perang ini mengambil risiko dengan membangun kembali pendidikan dan ekonominya. Alhasil, Jepang menjadi negara dengan pendidikan yang maju dan ekonomi yang dapat mempengaruhi ekonomi dunia saat ini.

Kita bisa lihat dua negara yang berpikir positif. Pemerintah, siswa, dan guru yang bekerja bersama untuk kemajuan bangsa akhirnya dapat tercapai. Bagaimana dengan negara kita yang merdeka di tahun 1945? Namun, hingga detik ini tingkat kemiskinan, pengangguran, dan buta aksara masih ada. Menjadi perhatian besar, apakah kita berani mengambil risiko seperti dua negara tadi untuk memprioritaskan pendidikan dan ekonomi negara Indonesia. Civitas akademika perlu untuk kembali menggelorakan semangat diri dalam pendidikan kita. Pemerintah memerlukan keberanian dalam menyikapi pendidikan saat ini/ Program internet masuk sekolah dan desa-desa bukan hal yang seluruhnya positif, itu belum merupakan parameter keberhasilan pendidikan kita.

“Perubahan yang besar dimulai dari perubahan kecil”

Samosir adalah kabupaten tertinggal (1) di sumatera utara, maka dengan ini kami berusaha berpikir positif terhadap pendidikan dengan cara pelaksaan kegiatan try out SMA/SMK sekabupaten samosir. Besar harapan kami dengan adanya kegiatan ini menggugah semangat orang-orang terutama siswa/I di kabupaten samosir untuk berusaha mendapatkan pendidikan yang lebih layak. Dan juga mereka akan lebih siap nantinya untuk menghadapi ujian masuk perguruan tinggi.

Kegiatan try out ini sudah pernah dilaksanakan sebelumnya dalam skala yang lebih kecil dan memberikan dampak yang positif kepada para siswa dan guru. Mereka juga berharap kegiatan kemarin mempunyai kelanjutan.

try-out-tahun-2008

Setelah melihat hasil try out yang diadakan pada tanggal 26 April 2008 di kabupaten samosir oleh mahasiswa asal samosir bekerjasama dengan ISH-tiangbendera ITB(2), kami mau menindak lanjuti kegiatan tersebut dengan melakukan kegiatan yang lebih dari tahun sebelumnya. Kami optimis bahwa dengan proses yang akan kita lakukan bersama, mereka bisa melakukan evaluasi sejauh mana kemapuan dan pemahaman mereka. Dapat juga digunakan sebagai gambaran hasil yang akan mereka peroleh pada ujian masuk ke universitas yang mereka cita-citakan nantinya.

Hal ini dilakukan berdasarkan pertimbangan yang matang setelah melihat pendapat siswa-siswa samosir dan hasil ujiannya.

Tujuan

Dengan landasan pemikiran diatas, maka diambil beberapa point penting yang akan berusaha diwujudkan yaitu :

1. mempersiapkan siswa/i SMA Kabupaten Samosir untuk menghadapi UAN dan SNMPTN 2009.

2. pengejawantahan kepedulian terhadap samosir.

3. Memberikan wadah pelaksanaan bagi orang-orang yang peduli masalah sosial terutama pendidikan.

4. Membangun kesadaran peduli pendidikan terutama bagi kabupaten samosir.

5. Memperkenalkan profil perguruan tinggi melalui media buletin.

Untuk mencapai tujuan diatas, maka  akan diadakan serangkaian  kegiatan yakni :
I.sosialisasi ide
Tujuan     :
1.Menyebarkan dan mempertajam ide tentang perlunya try out di kabupaten samosir.
2.Terbentuk jaringan organisasi yang peduli terhadap samosir baik yang berada di Sumatera Utara maupun diluar Sumatera Utara
3.Terbentuk panitia pelaksana lokal yang akan mempersiapkan pelaksanaan  Try Out di semua SMA/SMK di Kabupaten Samosir
Waktu : tanggal 1-20 Februari 2009
Metode : diskusi ringan dan saling berkomunikasi lewat sms, blog, facebook, friendster, email, dan yahoogroup

II.Mencari dana operasional dan pematangan rencana kegiatan
Tujuan :
1.Mendapatkan dana untuk keberlangsungan acara ini
2.Mencari orang-orang yang masih peduli terhadap Pendidikan Samosir
Waktu: tanggal 1 maret – 20 Maret 2009

III.Melaksanakan Try Out di kabupaten Samosir
Tujuan :
1.Melatih siswa-siswi Samosir menjawab soal-soal UN dan SPMB 2009
2.Memberitahukan ide dan strategi dalam menghadapi UN dan SPMB 2009
3.Sebagai feedback bagi siswa-siswi Samosir dalam mengambil keputusan memilih jurusan/universitas.
Waktu    : 21 maret
Peserta    : Siswa-siswi SMA se-Kab Samosir.

IV.Hasil dan Analisis
Tujuan :
1.Mengetahui hasil dari try out
2.Waktu : 27 maret

time-line-kegiatan

Kepanitiaan

Kepanitiaan awal dari kegiatan ini dilaksanakan oleh beberapa orang anak muda yang merasa peduli dengan pendidikan di kampung halaman. Kami merupakan sebuah komunitas biasa komunitas samosir berubah yang bekerjasama dengan unit kegiatan di kampus ITB, Institut Sosial Humaniora-tiang bendera ITB, juga dengan organisasi alumni sekolah yaitu ALBUMPANG dan juga ALBUM MEDAN.

ALBUMPANG adalah Organisai Alumni SLTP Budi Mulia Pangururan

Album Medan adalah singkatan dari Alumni SMA Budi Mulia. Organisasi ini untuk segenap alumni SMA Budi Mulia P.Siantar yang ada di Medan.

Susunan Kepanitian Sebagai Berikut

Pelindung : Tuhan Yang Maha Esa

Penanggung Jawab : Raja Sondang Simarmata

Anggota yang tergabung dalam kegiatan ini :

1.) Divisi Pembuat soal dan pembahasan

a) IPA

· Peri Turnip ( Matematika ITB)

· Raja Simarmata ( Tehnik Pertambangan ITB)

· Risman Simanjorang (Teknik Sipil ITB)

· Rapella Theodore Surbakti (Teknik Industri ITB)

· Guntur Purba (Teknik Elektro ITB)

· Hendra Andreas ( Matematika ITB )

· Ariondoro Simbolon ( Teknik Informatika Unikom )

· Lina ( Biologi Unimed )

· Vince Rajagukguk (Teknik Pertambangan ITB)

· Dwi Friska Naibaho (FTSL ITB)

· Emra Manik (Biologi Unimed)

b) IPS

· Nova Simbolon ( Sejarah UPI )

· Roy Ganda Sagala ( Hukum STHB )

· Darman Turnip ( Hukum UGM )

· Boyke Siringoringo (Sekolah Tinggi Ilmu Ekonomi YKPN Jogjakarta)

· Grace (Hukum Unpad)

· Erhayanti (Fisika UPI)

· Samuel Nababan

· Chandra K Simankorang (Ekonomi UNPAD)

· Nova Simanjorang (ilmu pemerintahan Unpad)


2.) Divisi Dana Usaha ( Danus )

ü Simon Silalahi

ü Muncul Saragi

ü Putra Siregar

ü Anita

ü Franto Sinaga

ü Josevina Silalahi

ü Hendro Maulana Sugandi

ü Subandi Sihotang

ü Candra Sitanggang

ü Nony Munthe


3.) Divisi Pubikas

ü Manganju Luhut Tambunan

ü Roy Ganda Sagala

ü Elisa Sirait

ü Fera Silalahi

ü Adi Gunawan Purba

ü Febrina Sri Boco


4.) Dokumentasi

ü Nita Riany

ü Raja Simarmata

ü Peri Turnip

ü Risman Simanjorang

ü Helmina Sipayung

ü Nita Riany


5.) Tim Pelaksana di Medan dan Samosir :

ü Irma Sihotang

ü Asiroha Siboro

ü Candra Damanik

ü Fitri L Manik

ü Asiroha Siboro

ü Ika Simbolon

ü Kartini Sinaga

ü Kristina Lumbantobing

ü Lina Naibaho

ü Martogi Sipakkar

ü Astri Sinurat

ü Prima Lumbangaol

ü Rayon

ü Boy Handy Sihombing

ü Daniel Turnip

ü Togi Simbolon

ü Florian Manurung

ü Isnawati Nadeak

ü Amrin Manik

ü Pagar Sinaga

ü Emra Manik

ü Lina

ü Helmina Sipayung

ü Elbiando Roberto

ü Archiman Simbolon

ü Agustina Manurung

ü Elvis Christison

ü Noverto Sitohang

ü Antoni


6.) Kesekretariatan

ü Bogor : Budimantua Simarmata (085694055957)

ü Medan : Faria Sihotang (081375405004)

ü Bandung : Ariandoro Simbolon (081320188048)

ü Jakarta : Try jaya sipayung (081375885554 )

ü Yogyakarta : Boyke Siringo-ringo (085261290005)

Segala bantuan anda dapat di kirimkan ke
  
       No rekening      : 0107560315
Kantor cabang  : Bank BNI ITB Bandung       
Atas nama        : Peri Turnip
No rekening        : 131-00-0486869-3
Kantor cabang  : bank Mandiri Pematang Siantar
Atas nama        : Guntur Purba Siboro
No rekening        : 7770656316 
Kantor cabang  : BCA KCU DAGO    
Atas nama        : Samuel Zulkhifly Sinaga

Besar harapan kami kegiatan ini dapat berlangsung, mudah-mudahan kegiatan ini menjadi langkah awal perubahan yang kecil menjadi sebuah perubahan yang besar diranah pendidikan. Dan untuk itu kami sangat berharap dukungan ide dan material dari semua pihak.

Terima kasih


ttd

Anggaran Dana

dana



Contant person

Nama

Telepon

Email

Raja Simarmata

085297757902

raja.simarmata@yahoo.co.id

Peri Turnip

081394394462

turnip_fbi@yahoo.com

Risman Simanjorang

085220581078

man_joeranx@yahoo.com

Candra Damanik

081371288739

album_medan@yahoo.co.id







Maret 16, 2009 Ditulis oleh rajasimarmata | baru, carpe diem, daerah, medan, pemikiran, pendidikan, samosir | | Belum Ada Tanggapan

cerita seorang sahabat tentang bona pasogit

Iban….

Aku udah wisuda dan sekarang kerja di PT INDOFOOD Medan.

Kau tahu kenapa aku bilang bahwa dirimu makin matang????

Karena dalam tulisan2 mu di blog itu, juga mengenai semua pemikiran2 itu, aku sungguh merasakan kecintaan mu pada tanah kelahiranmu, bona pasogit kita. maukah kau mendengar ceritaku tentang perjalananku disana??

Akhir januari lalu aku baru saja dari pangururan, biasalah ada tugas dari kantor untuk survey ke kantor cabang disana..

Aku berangkat waktu itu via tele, kau tau itulah untuk pertama kalinya aku melewatinya. Selaksa kekaguman terukir ketika aku melihat pemandangan disana, kata orang lewat tele itu ngeri dan terjal tapi sekarang jalannya jauh lebih lebar dan aku sungguh menikmatinya.

Namun membaca tulisanmu yg terakhir itu tentang pembalakan hutan2 disana untuk menjadi taman bunga maka aku jadi merasa ngeri sekali. Aku yang kurang update info atau bagaimana namun yg jelas aku gak tahu bahwa keadaan nya sudah separah itu. Iban, aku masih ingin bahwa view itu masih tetap milik kita….

Aku berada disana selama tiga hari. Waktu yg singkat untuk mengenal kota yg sudah 11 tahun lebih tidak kujalani. Ya, kami memang sudah lama tidak pulang kampung karena oppungku sekarang tinggal bersama kami di siantar. Ada kerinduan untuk kembali ke kampung oppung di salaon dolok, kuingat kembali saat kecilku liburan disana. Mandi di sungai yg jernih, dikejar2 kerbau, lalu memetik markisa belanda yg ada di ladang oppung. Itu kualami terakhir kali ketika aku masih di SD KELAS IV. Tapi kenangan itu tak pernah pudar dari ingatan..

Selesai melakukan tugas dari kantor ku, kusempatkan menjalani rumah namboru dari oppung bersaudara (oppung martinodohon). Hanya berbekal ingatan akan nama yg sempat terucapkan bapa ku waktu aku pulang ke rumah di siantar. “namboru mu itu tinggal di dekat kantor dinas pengairan di daerah Buhit Pangururan”. Dari Hotel Tiga Besar tempatku menginap aku naik becak dan menyebutkan untuk diantar ke tempat yang kutuju. Lalu sesampainya disana, memang aku tidak lagi mengenal lokasi tersebut tapi aku masih bisa mengenal wangi yg khas itu. Wangi rebusan kacang kedelai untuk pembuatan tahu. Namboruku memang punya usaha pembuatan tahu. Wangi itulah yg menuntunku untuk mengenali rumah namboru karena memang rumah itu agak sedikit berubah. Ah, tapi tempat tahu itu masih seperti yg dul. Lalu ingatan akan masa kecilku flash lagi ketika namboruku memberi ku minum air perasan tahu yg dicampur gula, lalu ketika aku dan adik2ku berebutan untuk memakan tahu yg baru matang..Rasa tahu itu masih tetap melekat di lidahku, rasa khas tahu buatan sendiri.

Aku masih mengenal wanita yang sedang bekerja di tempat tahu itu, itu namboruku. “namboru na disi do namboru?”. Sontak dia menengadah dan memandang ke luar, dan berlari memelukku. Dia masih mengenalku…..aku begitu terharu. Tapi adik2 sepupu ku sangat merasa asing denganku. Kusadari bahwa memang kami jarang bertemu. Lalu ketika amang boru datang dan semua keluarga berkumpul, kami pun bercerita bersama sambil minum kopi dan menikmati penganan yg sengaja kubawa dari medan. Huh…..semilir angin danau bercampur dengan aroma tahu sangat mengasyikkan untuk dihirup. Inilah udara yg selama ini sangat kurindukan. Udara dan angin dari bona pasogitku…..

Keesokannya adalah hari minggu,namboru menyarankan aku untuk mengunjungi rumah oppung di Salaon Dolok karena aku sudah lama tidak kesana. Lagian aku masih tetap tinggal disana sampai hari senin yg kebetulan adalah hari libur karena hari raya imlek…dan lagi aku juga sudah lama tidak menginjak rumah oppung, rumah kelahiran bapaku, disana masih ada namboru (ito bapa). Sebenarnya aku pun berniat begitu, namun aku takut mengutarakan karena yg aku ingat bahwa jalan ke rumah oppung sangat buruk dan aku gak mau merepotkan keluarga untuk mengantarku kesana, apalagi tak ada ortu bersama ku disana. Aku mengingat bahwa aku akan seperti orang buta yg meraba2 jalan. Namun sebelum aku utarakan maksudku, eh namboru mengusulkannya bahkan menawarkan agar paribanku yg mengantar ke Dolok (sebutan untuk kampung oppung). Aku pun menyetujui usul namboru dan aku berpikir bahwa tondi oppung memang memanggilku untuk mengunjunginya. Lalu aku kembali ke hotel, padahal namboru udah memaksa aku untuk menginap di rumahnya. Tapi aku berjanji akan menginap keesokan harinya..

Setelah pulang gereja di ST.MIKHAEL aku pun bergegas ke rumah namboru. Namun namboru lagi ke gereja, dan aku hanya menemukan paribanku di rumah. Lalu aku teringat kebiasaan mama ku ketika pulang ke dolok, atau ketiak tetangga dari dolok datang ke rumah di siantar, maka mama akan selalu menitipkan sembako dan kue2 untuk namboru di dolok. Mengikut kebiasaan mama itu, maka aku paksa paribanku untuk menemani ku ke pasar dan belakangan ku tahu bahwa mereka menyebutnya “tajur”.Walaupun aku gak tahu menawar harga2 bahan2 itu tapi dengan kualitas bahasa batak yg tak seberapa kucoba juga untuk melakukan kegitan tawar-menawar. Kami berbelanja kue2 dan bahan2 makanan untuk dibawa ke dolok

lalu aku dan paribanku berangkat. Ketika mulai mendaki rasa haru meyelimuti hatiku, tak terasa air mata mengalir. Betapa tidak, jalan yg kulalui sangat terjal, berbatu dan rusak parah. Beberapa kali sepeda motor kami hampir terjatuh karena ban nya selip dengan runcing bebatuan atau pun lumpur. Maklum lah saat itu memang musim hujan. Aku berusaha menghadirkan bayangan saat2 bapa ku muda dulu ketika dia melewati jalan ini untuk menimba ilmu dari rantau lalu kembali ke kampung dengan berjalan kaki. Betapa perjalanan yg melelahkan. Di kiri kanan jalan terkadang kami berjumpa dengan beberapa orang dewasa atau anak2 yg berjalan kaki smabil membawa cangkul, kayu atau yg lainnya. Huh….aku menangis dalam hati. Hidup yg penuh perjuangan. Tapi hatiku sedikit terobati ketika melihat pemandangan daerah Parsopoan. Tiba2 aku berujar kepada paribanku yg kebetulan fasih b.indonesia, “nanti kalau aku menikah,aku mau buat foto pernikahan dengan latar hutan2 itu”, dia bertanya kenapa aku memilih daerah itu??aku hanya diam dan menyimpan jawaban itu dalam hatiku, namun dia berjanji akan menjaga daerah itu untukku sampai tiba saatnya nanti aku menikah.

Ketika sampai di kampung oppung, aku hampir tidak mengenali lagi daerah itu. Banyak yg berubah. Ada penambahan beberapa rumah. Kulangkahkan kaki memasuki jalan masuk ke kampung itu, aku memang tidak lagi terlalu mengingat detail kampung oppung tapi aku masih mengingat rumah masa kecil itu. Paribanku masih berbicara dengan beberapa tetangga dan aku terus melangkah. Aku berdiri di depan sebuah rumah dengan tangga nya yang sudah tua. Inilah rumah itu, rumah kelahiran bapaku, rumah oppungku yg sebelas tahun lalu kutinggalkan dengan segenap kenangannya. Aku masih ingat amben (pattar-pattar) di sisi rumah, pattar-pattra tempat aku mandi dengan air hangat yg disediakan namboru ketika aku merasa kedinginan dan tak mampu mandi di sungai. Tapi pattar itu telah menjadi gudang barang. Selain itu tak ada yg berubah dari rumah kecil berbentuk letter L itu. Aku mulai menaiki tangganya satu persatu diiringi derai air mata. Betapa tidak terbayangkan bahwa aku bisa kembali ke rumah yg sudah 11 tahun ini selalu kurindukan dalam ingatanku. Aku melihat seorang wanita sedang mengambil (menakkar) kopi dari ember.aku tahu itu pasti namboruku. “Namboru………”, spontan dia menoleh, dia masih mengenal suaraku walaupun cahaya dalam rumah itu sangat gelap. “Na ro do ho anggi……!!!”. Dia memelukku sambil menangis, lalu membimbingku ke belakang, duduk dekat para2, tempat kesukaanku karena di situ aku bisa minum kopi sambil makan kue dan menikmati hangatnya perapian. Kami bercerita panjang lebar dan aku menyerahkan barang yg kubawa kepada namboru untuk disimpan. Namboru memarahiku karena repot membawa segalanya itu. Lalu dia membongkar bawaan itu untuk disimpan lalu berkata,”amang tahe, nunga songon ina-ina si jenni on, rikkot hian, diboan sude. Diboto do dang adong manang aha laho allangon di huta.” (si jenni sudah seperti ibu-ibu, dia tahu bahwa di kampung gak ada apapun yg bisa dimakan). Tapi memang aku syukuri bahwa mama menunjukkan teladan yg baik dalam berhadapan dengan keluarga. Sehingga aku mengikuti cara2 mamaku. Hatiku kembali trenyuh ketika menemukan bahwa lauk yg ada di rumah namboruku hanya gulamo dalam stoples. Ah sedih hatiku………kopi juga belum panen.

Lalu tetangga berdatangan, mereka yg selama ini hanya mengenal namaku tapi tak pernah lagi melihat wajahku. Kue-kue yg kubawa pun dibuka untuk disajikan namun terlebih dahulu disusun dalam sebuah piring untuk didoakan kepada tondi (arwah) oppung boru yg tidak pernah kukenal karena ketika aku lahir oppung boru telah meninggal.

“Inang, nunga ro pahompu mu si Jenni. Dibohan do kue-kue, las ma partondian mu da inang!”(ibu, cucu mu jenni telah datang, dia membawa kue-kue. Bersukacitalah hati roh ibu menerimanya). Aku menagis sejadi2nya, kupikir bahwa selama perjalanan ku di bona pasogit, hatiku terlalu melankolis dan cengeng sehingga terlalu banyak menangis. Atau inikah efek kerinduan selama 11 tahun ini???

aku menangis karena memang aku sangat merindukan oppung boru untuk bisa bermanja2 dalam gendongan tangannya, bercerita tentang kisah cita, cintaku. Aku memang bisa bercerita kepada mama tapi bercerita dengan oppung boru pasti akan memberi kesan tersendiri. Aku merasa bersalah karena baru bisa mengunjungi rumah oppung setelah 11 tahun. “oppung…masihol au tu jabu mon oppung. Nunga songonon sonari pahompu mon oppung, alai dan ibereng ho be oppung. Alai las rohakku tondim torus do manggomgom au” ( oppung….aku rindu kembali ke rumahmu.terima kasih oppung bahwa kau selalu menyertaiku sehingga aku bisa seperti sekarang ini).

Setelah itu baru lah kue-kue bisa dibagikan dan dimakan tamu-tamu yg hadir. Rumah oppung ku penuh dengan saudara2 dan kerabat yg berkunjung. Senangnya hatiku berjumpa dn berkenalan dengan mereka. Ternyata banyak saudara yg belum kukenal. Aku tahu bahwa mereka kurang fasih berbahasa indonesia maka dengan kemampuan seadanya kuusahakan agar berbicara dengan bahasa batak, bahasa darahku……..ketika aku kurang mengerti arti kata tertentu aku tidak segan untuk bertanya karena aku ingin memperkaya kemampuan bahasa batakku juga agar mereka tidak kesulitan berbicara denganku. Aku malu sebagai orang batak kalau tidak mengerti bahasa sendiri. Aku selalu berpegang pada nasihat bapaku, “inang kau itu boru batak, boru ni raja. Molo boru ni raja ingkon do mangantusi di adat na manang bahasa na.!” (boru batak itu adalah putri raja maka harus mengerti adat dan bahasanya). Lalu namboru ku menyembelih ayam dan diatur untukku. Aku kembali trenyuh karena dalam segala kesederhanaan aku mendapat perlakuan istimewa disana. Di kampung kelahiran bapaku, di tanah yg kucintai.

Sedih harus berpisah dengan mereka. Terasa sangat singkat waktu. Tapi aku harus pulang ke buhit karena besok nya aku harus balik ke medan dan bekerja seperti biasa lagi. Aku berpamitan dengan semua orang lalu menapaki lagi jalan yg sama tapi kali ini dengan hati bersukacita karena aku telah melihat tanah bona pasogitku. Sekaligus timbul harap dan janji lagi untuk bisa kembali kesana dan tinggal untuk waktu yg lebih lama lagi.

Malamnya namboru di buhit mengajak aku ke tempat pemandian air hangat. Terasa akrab suasana kekeluargaan waktu itu karena aku juga sudah mulai dekat dengan saudara2 yg lain. Aku membayangkan seandainya mama bapaku, juga adik2ku ada disini bersama ku pasti lengkaplah kegembiraanku. Bersama mereka di tanah kelahiran bapaku. Bona pasogit kami…….

Keesokan harinya aku kembali ke medan…..hatiku merasa sedikit terpuaskan dengan kunjunganku yg singkat itu walaupun karena adanya tugas kantor maka aku bisa ada disana. Tapi aku bersyukur bahwa momen itu masih bisa menjadi milikku. Maka kini kau tahu kan kenapa aku sangat mncintai tanah itu. Karena tanah itu mengingatkanku pada segala kenangan yg pernah terukir dalam hidupku, juga segalanya yg membuat seorang Jenni Ivanna Malau ada saat ini.

iban….sekarang kau juga tahu kan alasanku mencintai tanah itu.

lalu entah apa pun yg bisa kubantu selama aku bisa membantu baik itu mengenai perjuangan mu dan teman2 toba dreams atau yg lainnya, maka aku akan coba bantu.

ini no hp ku.

0812607768XX

08566600XX

oh ya iban, aku juga perlu bantuan mu tentang satu hal. kalau kau sudah baca email ku maka tolong info ya!!!!

GBU

Februari 24, 2009 Ditulis oleh rajasimarmata | carpe diem, daerah, medan, pemikiran, pendidikan, samosir | | Belum Ada Tanggapan