Seekor burung hanya bisa terbang tinggi jika kakinya tidak terikat
Seekor burung hanya bisa terbang tinggi jika kakinya tidak terikat
Seekor burung pastilah dapat terbang, mungkin perkecualian adalah burung unta. Pernahkah kita melihat burung dalam sangkar ? mugkin hampir semua dari kita pernah melihatnya. Apa yang kita lihat ? mungkin sebagian orang menjawab dengan cepat “ ya burung” berada di dalam sangkar.
Terlepas dari kegunaan burung dalam sangkar, semua kita sepakat bahwa burung habitatnya bukanlah di dalam sangkar, walaupun burung punya rumah namanya buanlah sangkar melainkan sarang. Burung yang ada dalam pikiran saya adalah hewan bersayap yang mampu terbang tinggi, terbang kesana kemari menjalani hidupnya.
Burung bukanlah hewan yang mempunyai habitat di dalam benda berbentuk tabung, bukan pula mempunyai tali pengikat kaki sebagai pembatas geraknya.
Ada apa dengan burung ? mestikah kita membahasnya ?
Satu hal yang pasti adalah sangkar ataupun tali pengikat kaki burung berfungsi sebagai pembatas gerak burung, burung tak mungkin bisa bergerak liar diatas bumi, tak mungkin bias bergerak bebas kesana kemari dan tak mungkin bias menunjukkan jati diri burung yang sebenarnya.
Sebenarnya dalam hal ini saya tidak ingin membahas burung, walaupun aku pernah memelihara burung elang. Dulu aku “mencuri” anak elang dari induknya, aku memanjat pohon tertinggi di kampung untuk memenuhi keinginan memelihara burung elang. Pohon itu bukan saja hanya paling tinggi akan tetapi juga keramat, pohon itu adalah “jabi-jabi” atau hariara yang dalam bahasa Indonesia dikenal dengan beringin. Pohon itu sudah sangat tua, mungkin sama tuanya dengan perkampungan yang kami tinggali di samosir. Hariara yang aku panjat itu bukan pohon sembarangan, pohon itu adalah keramat yang sering diberi sesajen di bawahnya. Pernah juga dilakukan sebuah upacara adat di pohon itu, hariara itu berada di huta raja desa lumban suhi-suhi, dibelakang rumah adat “ rumah gorga”. Waktu itu bayak orang-orang yang melihat, bahkan banyak orang tua keluar dai rumah. Aku memang tidak sendiri waktu itu, tapi yang sampai ke ranting puncak hanya aku. Aku yang mengambil anak elang dari sangkarnya, membungkusnya dalam bajuku yang telah aku buka. Sebelumnya kami tak lupa mengucapkan “sattabi” sebagai mohon ijin kami sebelum beraksi, aku tak tahu pohon keramat itu mendengar atau penunggunya mengijinkannya. Tapi yang jelasniatan kami atau aku bukanlah mengahncurkan mitos pohon itu adalah pohon keramat, melainan keinginnan yang sangat besar ingin memiliki dan memelihara seekor elang.
Ah ko ceritanya jadi aneh gini ya ?? ?Padahal aku tak mau membahas burung. Sebenarnya judul “Seekor burung hanya bisa terbang tinggi jika kakinya tidak terikat” hanyalah sebuah istilah, walaupun memang benar adanya bahwa burung tidak akan terbang tinggi jika kakinya terikat. Namun burung dalam hal ini adalah diri kita sendiri, kadang tanpa kita sadari ada sesuatu yang mengikat kita sehingga kita tidak dapat “ terbang tinggi”. Bisa saja hal itu pemikiran kita, bisa juga tindakan, kadang ada yang kita sadari akan tetapi lebih banyak adalah tanpa kita sadari.
Kadang kita terlalu berpikir terlalu membesar-besarkan masalah, mencari-cari alas an. Pikiran kitalah yang paling sering membelenggu diri kita sendiri, sehingga kurang berani dalam bertindak. Banyak sekali pertimbangan dalam melakukan sebuah tindakan, bahkan sangkin banyaknya sampai lupa mau melakukan tindakan itu sendiri. Kadang malah terlalu khawatir dengan kegagalan, berpikir dulu analisis sana-sini, metode digunakan sangat banyak berharap segala sesuatu yang dilakukan itu sempurna. Hah… pikiran ini yang paling sering menjadi jebakan dalam bertindak, sampai lupa mau melakukan apa. Bukan mau menyepelekan semua hal, bukan pula mau menganggap remeh sebuah proses, dan tak berharap hasil yang baik. Justru ketika kita bertindak disitulah terjadi sebuah proses, terlepas berhasil atau tidak, banyak tantangan atau tidak yang penting kita sudah melakukan. Bukankah kalau kita berharap segala sesuatu itu sempurna dahulu maka tidak ada yang dapat kita lakukan di dunia ini.
Apakah kita baru bisa bertindak kalau sudah punya kekayaan ? atau harus sudah punya gelar berjubel seperti Ir, Dr, MBA, Msc dll. Huh kenapa ya, selalu yang aku dengar dari orang-orang nanti dululah itu. Yang penting kita lulus dulu, nanti kalau sudah lulus kerja, cari duit barulah dilaksanakan. Kadang aku berpikir ko terlalu takut. Apakah yang menentukan keinginan itu tercapai hanya dari gelar ? ataukah dari modal ? atau dari usia seseorang ? apakah orang yang masih dalam usia relatif muda tidak bisa melakukan sesuatu ?
Seorang pernah bilang samaku “ itu mah tergantung niat dan kemauan melaksanakan, usia bukan penentu, gelar juga”.
Sebagai gambaran kita pasti tahu penemuan paling menggemparkan pada awal abad XX, walau tidak sedahsyat satu abad kemudian dimana era manusia telah berhasil mengirim pesawat ke luar angkasa, atau saat ini ketika manusia sudah menerbangkan pesawat ulang alik, pada akhir tahun mendekati abad ke-19, wrigth bersaudara, membuktikan kepada dunia bahwa mereka telah berhasil menciptakan burung besi yang dapat terbang diangkasa.
17 desember 1903, Hari jumat yang cerah sebuah percobaan dilakukan. Wilbur dan Orville Wright berhasil membuka mata dunia dengan menerbangkan “Kitty Hawk North Carolina”. mereka berhasil menerbangkan pesawat udara pertama yang beratnya jauh melebihi berat udara. Fakta yang mungkin tidak semua orang tahu adalah bahwa Wright bersaudara hanyalah pengusaha sepeda yang tidak menggunakan teknologi tinggi, dan hal yang paling mengagumkan lagi adalah wright bersaudara bahkan tidak lulus sekolah menengah atas apalagilah gelar di bidang aeronautic, fisika, ataupun matematika. Banyak dari rekan mereka tidak percaya bahwa Wright bersaudara yang biasa mereka kenal sebagai mekanik sepeda dari ohio mampu membuat pesawat terbang.
Samuel Pierpont Langley (1834-1906), mungkin tak banyak yang mengenal karena memang begitulah pada umumnya, orang yang dikenal hanyalah orang-orang yang berhasil, orang-orang yang berbeda dari biasa. Samuel Langley kontras dengan Wright bersaudara walupun hidup dalam zaman yang sama. Samuel Langley mempunyai pendidikan yang tinggi dan bergelar professor. Didukung dengan dana yang kuat sebesar US$ 50.000, Langley berusaha menciptakan pesawat terbang. Percobaan Langley yang terakhir pada tahun 1903 merupakan kegagalan besar buatnya. Diliput oleh banyak wartawan, kejadian itu mengakibatkan departemen yang mensponsori programnya mencabut dukungan dana dan membuat Langley menyerah. Setelah kegagalan Langley, Departemen Pertahanan Amerika mengeluarkan konklusi dari usaha Langley, bahwa dbutuhkan waktu yang cukup lama dan modal yang lebih besar lagi untuk mewujudkan cita-cita terciptanya pesawat terbang. Namun sembilan hari setelah kegagala Langley, Wright bersaudara mampu membuat unia terpana dengan pesawat ciptaannya, terbang ke udara. Padahal dana yang digunakan hanya sebesar US$1000.
Pada tahun 1906 Langley meninggal karena stroke. Wright bersaduara akan dikenal sebagai cendikiawan tanpa sekolah yang mampu menyumbangkan penemuan hebat seperti Edison.
Saya ga bilang profesornya yang terlalu mikir rumit, terlalu memperhitungkan segalanya sampai lupa masalah sebenarnya atau Departemen pertahanan yang terlalau takut. Tapi saya yakin bahwa Wright bersaudara berpikir dan mau mencoba mulai dari hal kecil. Ini adalah masalah pemikiran dan tidakan, Wright bersadaudara telah mampu membuat “kakinya” tidak terikat ataupun telah lepas dari ikatannya sehingga ia mampu “ terbang tinggi”.
Kalau guru SMA saya dulu bilang “KISS” alias keep it simple stupid
Tulisan ini aku buat kepada orang-orang yang pernah bekerja sama denganku (aku sangat berterimakasih atas kepercayaan kalian), kawan-kawanku, adikku, juga seseorang di jurusan Biologi UGM angkatan 2007, teman2 di fesbuk, juga kepada orang-orang yang mau bekerjasama dalam waktu ke depan.
Dari berbagai sumber,
http://www.solarnavigator.net/inventors/wright_brothers.htm
http://www.centennialofflight.gov/essay/Dictionary/Langley/DI30.htm
Agustus 31, 2009 Ditulis oleh rajasimarmata | daerah, hal baru, pemikiran, pendidikan, perubahan, samosir | | Belum Ada Tanggapan
Mendirikan PTN di Samosir , Langkah tepat pencerdasan Bangsa
Pendidikan adalah proses penurunan nilai yang berlaku dalam suatu masyarakat, dengan nilai-nilai yang ada maka suatu masyarakat diharapkan mampu survive dalam lingkungannya. Pendidikan mampu memberikan proses berpikir yang akan membangun suatu masyarakat, pendidikan mampu membawa kepada suatu masyarakat madani. Bukan hanya dalam ligkunga kecil tetap juga dalam lingkungan yang lebih besar.
Kedatangan kami di UT Batam untuk memenuhi Undangan dari pihak UT Batam dalam acara “ Brainstorming Rencana Pendirian Perguruan Tinggi Negeri di Pualu Samosir Kerja Sama Antara : UPBJJ Batam-UT Batam Dengan Pemerintah Kabupaten Samosir”. Acara yang diadakan tanggal 17 Juli 2009 ini di hadiri dari berbagai pihak seperti Pemkab Samosir oleh Bapak Bupati beserta jajarannya, Pimpinan Universitas Batam beserta jajarannya dan dihadiri oleh tiga perwakilan mahasiswa asal samosir yang sedang kuliah di pulau jawa. Sebenaranya masih banyak lagi undangan, akan tetapi tidak dapat hadir karena berbagai alasan.
Secara pribadi kita mengenal yang mengundang adalah bapak pakken pandiangan, petingggi UT Batam. Perkenalan dimulai beberapa lalu ketika bapak ini membantu program samosirberubah dalam pelaksanaan try out April 2009.
Kami tiba di batam pukul sekitar 20.00 terlambat 2 jam dari yang dijadwalkan, karena pesawat yang kami tumpangi mengalami delay selama 2 jam. Di batam dijemput pak sembiring di bandara, dalam perjalanan pak sembiring melakukan komunikasi dengan bu Dina untuk menentukan tempat pertemuan. Akhirnya kami bertemu di rumah makan padang.
Dalam acara makan malam ini bergabung juga dengan Pemkab samosir, ada juga Kepala Dinas Pendidikan Kab Samosir. Acara makan malam ini dimulai dari perkenalan singkat sampai membahas berbagai hal termasuk juga keberadaan rumah makan padang. Pepatah mengatakan “diamana tanah dipijak disitu langit dijunjung”, sudah diganti menjadi “dimana tanah dipijak disitu ruah makan padang didirikan”. Hal ini bukan untuk mendiskreditkan orang-orang padang, akan tetapi kita melihat bahwa kemampuan orang padang utnuk survive dimana-mana dengan identitas rumah maknnnya. Tentu hal ini membawa manfaat yang sangat baik kepada orang padang. Terbesit juga pemikiran kalau dari samosir apa ya ?
Setelah makan dilanjutkan ke harbour bay, ketemu bapak Paken pandiagan dan bupati samosir, Mangindar simbolon. Di sana juga ada Hetderita sitanggang, sahabat samosirberubah dari UGM Jogjakarta.
Banyak hal yang diperbincangkan. Mulai dari perkenalan singkat, mulai dari musim mangga yang sdah usai di kabupaten samosir sampai membahas topik apakah mungkin mendirikan Perguruan Tinggi negeri di kabupaten samosir,kendala apa saja yang kita hadapi, dan keuntungan apa kira-kira yang didapatkan daerah samosir dengan hadirnya sebuah universitas di samosir.
Pembicaraan hampir memanas dengan berbagai pemikiran yang dikemukakan. Perbedaan pendapat yang kontruktif malam itu membuat suasana menjadi hangat, seolah-olah kami yang berkumpul di tepi laut itu sudah saling kenal sejak lama. Kira-kira apakah kita mampu untuk menghadirkan PTN negeri di samosir ? inilah topik yang paling hangat malam itu. Malam ini pembicaran ditutup dengan pesimisnya niat mendirikan universitas di samosir, karena kendala yag sangat besar. Tapi bapak Paken Pandiangan member jawab terakhir “kita lihat saja besok, saya akan sampaikan bagaimana model yang cocok untuk dikembangkan disamosir”. Perbincangan ini diakhiri karena sudah larut malam. Mengingat mulai hadir di Batam kami belum istirahat, perjalanan selanjutnya kearah penginapan di wisma Univ Terbuka Batam dan mempersiapkan diri buat acara puncak besok tanggal 17 juli 2009.
Hari yang ditungu-tunggu yaitu jumat 17 juni 2009
Pertemuan dimulai jam 8.30 di Ruang Teleconfrence Universitas Terbuka Batam. Acara awal dimulai dari doa pembuka dan selanjutnya adalah menyanyikan lagu kebangsaan “Indonesia Raya”.
Pemaparan pertama oleh bapak paken pandiangan, petinggi Universitas Terbuka Batam memberikan penjelasan tetang apaitu UT Batam. Bagaimana Cara kerjanya, satu al yang menarik adalah julah mahasiswa yang yang ada di UT batam berjumlah 11000 orang, dengan jumlah pegawai kurang lebih 15 Orang PNS.
Bagaimana mungkin sebuah universitas bisa berjalan hanya dengan 15 orang pengurus PNS? ternyata memang sisten pengajaran di universitas terbuka sangat berbeda dengan universitas yang lain, atau kita sebut saja cara konvensional seperti ITB, UGM, IPB, USU dll.
Di universitas terbuka belajar dapat dilakukan jarak jauh, dengan menggunakan media. Media yang paling banyak digunakan adalah Internet dan Buku, dengan internet dharapkan mahasiswa dapat belajar dimanapun dan kapanpun.
Bersambung ….

Dari kiri kanan : Raja Sondang Simarmata, Mangindar Simblon (Bupati Kab Samosir), Pakken Pandiangan (Kepala UPBJJ Univ Terbuka batam), Maris Sitangagang (Mahasisi UGM), Budimantua Simarmata (Mahasiswa IPB)

Dari kiri ke kanan : Kabag pendidikan Menegah, Kabag Humas pak Malau, Kadisidik J Sagala, Pdt Silalahi, Bupati Samosir (Mangindar Simbolon), Pimpinan Univ Terbuka Batam (Paken Pandiangan), Pengurus UT Batam, Mahasiswa ITB (Raja Simarmata), Mahasiswi UGM (Maris Sitanggang), Mahasiswa IPB (Budimantua Simaarmata), Ka TU Univ Terbuka Batam(Bu DIna)
acara ngopi santai setelah acara dari kiri ke kanan : Kadisdik Kab Samosir J Sagala, Pdt Silalahi, Bupati Kab Samosir Mangindar Simbolon, Pimpinan UT Batam Paken Pandiangan, Mahasiswa IPB Budimantua Simarmata, Mahasiswi UGM Maris sitanggang
Juli 18, 2009 Ditulis oleh rajasimarmata | Buaya, Bupati Samosir, PTN, UT Batam, baru, carpe diem, daerah, hal baru, pemikiran, pendidikan, perubahan, samosir | | & Komentar
2008 tano batak menantimu
2008 tano batak menantimu, judul apa pula ini ? tapi ya udahlah mending dilanjutkan aja.
aku percaya bahwa manusia adalah mahluk yang berpikir, bisa berpikir akan segala hal tanpa batasan apapun. bukan tidak mustahil orang akuntan jadi petani atau malah sebaliknya. banyak hal yang bisa dipelajari, bukan hanya teori akan tetapi juga praktek, bukan hanya sains ilmu sosial juga penting.
kemudian aku berpikir apa sebenarnya yang membatasi manusia ? jarak ? ah kalau ini sudah terjawab. ke bulan sudah ada manusia walaupun jarang yang ditempuh sudah sangat jauh (relatif). energi ? kalau ini sudah dieksploitasi manusia ? energi sudah bisa diubah menjadi bentuk lain, dibuatnya gerak (kendaraan dll). dibuatnya panas ( setrika, dispenser). dibuatnya dingin (AC kulkas dll). dan masih banyak hal lain yang sudah bisa dilakukan
terdiam ku terpikir, apa sebenarnya yang membatasi manusia ini ?
merenung hatiku menjawab, ada kok. apa itu ? jawabannya adalah “waktu”. iya waktu, kita masih sangat dibatasi oleh waktu. berapa lamakah kita hidup ? berapa lama kita dalam hidup kita dapat melakukan aktifitas ? berapa lama dalam sehari kita berkegiatan (selain tidur ya) . sangat terbatas ternyata.
kemudia aku terpikir apa yang pentingdilakukan untuk mengatasi keterbatasan ini ? apakah kita perlu menambah waktu (hidup) kita ????
satu lagi pertanyaan yang sangat kontroversial buatku. bagaimana tidak, munculnya opini buat apa berlama-lama hidup tapi menyusahkan ? tapi disatu pihak muncul lagi birkanlah dia hidup lama supaya dia bisa berubah dan tidak menyusahkan lagi ?
arggggggggghhhhh
makin bingung saja aku ini, terutama karena kekurang mampuan diriku menatur waktuku dengan baik. banyak pekerjaan yang terbengkalai, banyak tugas kuliah yang keteter, banyak teman yang terlupakan, banyak hal-hal kegiatan yang tidak berjalan sesuai jadwal. ah apakah aku perlu diberi tambahan waktu untuk menyelesaikan itu semua ? apakah perlu diberikan waktu 30 jam dalam satu hari supaya aku bisa menyelesaikan kerjaanku.
bingung juga akhirnya, tapi sedikit deemi sedikit kerjaan yang menumpuk ini mulai kubenahi. web yang aku bikin udah hampir jalan, tulisan yang mau dikirim ke media massa(kompas) belum selesai , masih sekitar 20%. tugas kuliah numpuk 3 belum dikumpul (pengolahan bahan galian, geofisika cebakan mineral, aduh satu lagi lupa). dan persiapan ujian pengolahan mineral industi (tanggal25 maret 2008)
ini beberapa kerjaan yang terbengkalai
Maret 23, 2008 Ditulis oleh rajasimarmata | baru, daerah, hal baru, pemikiran | | & Komentar
“CARPE DIEM” something new
START WITH A DREAM
Memulai sesuatu yang baru tentunya sangat sulit, terlebih-lebih jika terlalu jauh berbeda dengan yang sudah umum. Menjadi sesuatu yang beda membuat kita menjadi diri sendiri, kalo kata temen saya :” terserah apa kata orang, it’s me “
Tampil beda maksud saya dalam tulisan ini bukanlah sekedar penampilan doang, fasion, atau make up dll. Make a different itulah maksud saya, bukan hanya penampilan tapi juga pemikiran yang kemudian disertai tindakan. Kenapa takut beda ? Takut dianggap norak ? tenang aja, jawabannya adalah : it’s me
Sudah sesederhana itu memang, tapi mari kita mencoba telaah lebih jauh kenapa kita harus berbeda. Jika kita menilik pada awal manusia, semua manusia berasal dari peleburan sperma+ovum orangtuanya (tentunya berbeda pula). Nah setiap sel yang sudah menyatu menjadi zigot itupun “terdiferensiasi” berbeda walaupun proses siklus biologinya sama. Saat bayi juga semuanya beda, saat anak-anak, bahkan sampai dewasa dan masuk ke liangkuburpun semuanya beda. Tidak ada satupun manusia dibumi ini yang persis sama.
Tapi mengapa kita harus menggunakan produk yang sama ? harus pakai merk ini, itu dan harus makan disini. Ah kadang tak bisa aku pikir terlalu jauh dengan pemahamanku yang dangkal ini, apakah ini pengaruh iklan yang berlebihan (hegemoni) atau kita yang sudah tidak mempunyai daya pikir tersendiri lagi.
Berani beda itu membutuhkan sesuatu yang lebih dari biasanya atau bahkan ada yang berisiko, tapi hasilnya juga akan dapat dimanfaatkan . Seperti iklan saja jadinya: kalau bisa trendsetter, kenapa jadi follower ?
Mari berpikir beda, mari raih kesempatan (carpe diem) . Seseorang yang hanya jadi pengikut terus tanpa berusaha memikirkan sesuatu yang baru hanya akan jadi pelengkap saja diperadaban ini, bukan menjadi orang-orang yang bisa mengarahkan peradaban ini. Kenapa kita harus kuliah sampai S1, S2,S3 bahkan sampai es teler. Tapi akhirnya hanya jadi pelengkap penderita kehidupan ini. Banyak hal baru yang kita bisa buat, mulai dari penyadaran kepada orang-orang di sekitar kita. Teman, pacar, adik, kakak, keluarga dan lingkungan kita.
Ciptakanlah hal baru, jangan pernah puas dengan apa yang sudah ada. Konon inilah yangmendasari inovasi yang digembor-gemborkan manusia modern sekarang. Mulailah impikan sesuatu, apapun itu. Apakah kehidupan yang layak, kekayaan, kekuasaan, ilmu, teknologi, budaya dan lain-lain. Coba hayalkan kalau manusia dahulu sudah puas hanya pakai kapak perimbas dan hidup berpindah-pindah, jadi apa kehidupan sekarang ?
Siapakah yang dapat membuat perubahan itu ? siapakah yang dapat merubah itu ? siapakah yang dapat menciptakan inovasi itu ?
jawabanya : hanya mereka yang berani berpikiran beda
carpe diem !!!!!!!!!!!!
Desember 9, 2007 Ditulis oleh rajasimarmata | hal baru, pemikiran | | & Komentar
raja simarmata
Mulanya daku hanya ingin belajar menulis di dunia maya ini, saya lahir di huta baru desa lumban suhi-suhi (salah satu desa di samosir) agak terpencil sih tapi masih hijau dan tempat yang bagus . SD173767 tempatku mulai belajar awal, disekolah ini aku pernah menanam padi pak guru waktu kelas 6. kulanjutkan sekolah di SLTP Budi Mulia Pangururan dan SMA di kota siantar SMA RK BUDI MULIA. Dan sekarang sedang kuliah di Institut Teknologi Bandung jurusan Teknik Pertambangan mengambil Kelompok Keahlian Eksplorasi.
My address : raja.simarmata@yahoo.co.id
raja@students.itb.ac.id
085297757902
Halaman
-
Tulisan Terakhir
Blogroll
-
Komentar Terakhir
Linson Simarmata di raja simarmata Reinhard Putra Situm… di Potret kebobrokan sistem pendi… Apuh di Mendirikan PTN di Samosir , La… eva di Refleksi 21 tahun hidupku arles manik,SE,M.Si di Mendirikan PTN di Samosir , La… Januari 2010 S S R K J S M « Agu 1 2 3 4 5 6 7 8 9 10 11 12 13 14 15 16 17 18 19 20 21 22 23 24 25 26 27 28 29 30 31