mychoice

my choise make me life

pembalakan hutan 2000HA di TELE Kab. Samosir ??????

Batulkah akan ada pembalakan hutan di daerah tele ?

berikut saya copy email dari seorang sahabat yang berdiskusi disalahsatu milis :

peta samosir

Mari Kita Lawan !!!

Horas ma di hamu sude dongan par Samosir. Tgl 6 Februari lalu, saya dan lima teman (Viky Sianipar, Bismark Sianipar, Charlie Sianipar, Ganda Simanjuntak (Medan), dan sahalak bule Perancis, Laurent), atas nama komunitas Tobadream Jkt, pulang ke Samosir untuk menyiapkan ‘Tobadream Conservation Program’ (TCP).  Di Desa Martoba, Simanindo, kami menyiapkan perjanjian dng pemilik tanah yg sukarela menyerahkan 2 HA tanahnya utk ditanami pohon, mengadakan pertemuan dng teman-teman peneliti voluntir dari Badan Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli, Parapat. Juga melakukan sosialisasi dng orang-orang setempat (termasuk politisi-politisi lokal) dan Pemda (Bupati Samosir).

 

Kami juga menjelajahi dataran tinggi Samosir (Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan) dan mengelilingi Samosir hingga daerah Lagundi-Onanrunggu utk memetakan lahan kritis, dan, atas nama pribadi, mencari anak-anak asuh yg secara ekonomis kesusahan meneruskan sekolah. Untuk sementara, kami menyerahkan ke pastor Bernardus Sijabat dari gereja Katolik Paroki Pangururan. Beliaulah yg kami putuskan menyalurkan ‘aek santetek’ ke saudara-saudara kita, anak-anak di desa Sijambur, Salaon Dolok, Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan, yg sangat memerlukan bantuan biaya sekolah.

 

Juga kami temui seorang perajin eceng gondok di Pangururan (Gurning) dan membuat kerjasama utk membantu penjualan produknya di Jkt sekalian membantu disain yg lebih menarik agar diminati kaum muda Jkt. Pertemuan dng Bupati Samosir di rumah dinasnya dilakukan Viky dan Charlie, sementara saya dan Bismark menjelajahi Urat-Sipinggan dan melakukan pemotretan. 

 

Sebagaimana pertemuan kami di Jkt tiga bulan lalu dng Bupati Samosir, keinginan dan maksud kami menggugah warga (terutama para perantau) agar menggiatkan penghutanan kembali daerah Samosir dan sekitar Danau Toba melalui TCP, mendapat dukungan. Kami senang dan tak lupa menekankan bhw program TCP murni swadaya, tak akan membebani keuangan Pemda. Kami hanya mengandalkan partisipasi pribadi-pribadi yg tergerak hatinya utk membantu membeli bibit pohon dan biaya perawatan (menggaji tenaga lokal), dan  tiap rupiah yg kami terima harus bisa dipertanggungjawabk an.

 

Tak dinyana, malam sebelum kembali ke Jkt (9 Feb), kami bertemu dng seorang parnamboruan yg membuka kedai makan di Pangururan. Tanpa bicara panjang lebar, namboruku ini (Ny. Siregar br Situmorang) menyampaikan sebuah berita yg mengejutkan, yakni: Bupati sdh memberi izin ke sebuah perusahaan Korea utk membabat 2000 HA hutan Tele utk dijadikan kebun bunga! Warga Tele dan pemegang hak ulayat (marga Situmorang dari Harianboho, Baniara, Tele, mayoritas keluarga dekat sastrawan Sitor Situmorang) sudah mengajukan protes dan melakukan perlawanan. Namboruku ini pun lantas memintaku agar turut jadi pengacara pemegang hak ulayat (ditambah pengacara lain) untuk menggugat Bupati Samosir. Mendengar berita tsb, saya dan kawan-kawan langsung lemas! Terjadi semacam antiklimaks atas rencana penanaman pohon di Samosir yg dijadwalkan mulai 3 Maret 08. Berulang-ulang saya tanya kebenaran berita tsb,  namboruku itu kemudian memberi dua no.hp paramangudaon di Jkt agar saya hubungi. Malam itu pun langsung kami hubungi teman-teman di Pangururan utk verifikasi karena tak mungkin lagi berangkat ke lokasi (Tele). Ternyata mereka sudah tahu, bahkan pengakuan mereka sudah beberapa kali dimuat di koran-koran terbitan Sumut.

 

“Bah! Ngeri nai puang namasaon!” ucapku spontan.

 

Jelas, kami SANGAT KECEWA. Rencana melakukan penanaman pohon di atas lahan 2 HA, yang kami harapkan akan menjadi semacam “virus” positif bagi seluruh warga dan perantau Samosir dan wilayah-wilayah di Tano Batak utk melakukan hal yg sama, jadi sesuatu yg absurd, dilecehkan, dan “si parengkelon” .

 

Minggu siang (10 Feb), kami ketemu dua teman jurnalis, yakni Alvin Nasution (wartawan Metro Tapanuli/Metro Siantar) dan Andi Siahaan (wartawan dan kontributor Trans TV) di kedai kopi Koktong Siantar dan kemudian menanyakan kebenaran berita tsb. Mereka membenarkan berita tsb dan kata mereka sdh pernah ditulis sebagian pers Sumut. Malamnya di Medan, di rumah Grace Siregar (penggagas Galeri Tondi), kami ungkapkan berita tsb pada teman-teman yg sudah kumpul di sana (Thomson Hs, Alister Nainggolan, Miduk Hutabarat, dll). Mereka pun mengaku sudah mendengar tsb.

 

Setiba di Jkt, dari bandara, saya kirim SMS ke Batara Situmorang (salah satu pewaris hak ulayat) utk menanyakan masalah tsb sekalian langkah-langkah yg sdh mereka tempuh. Jawabannya, mereka sdh menyurati Bupati, beberapa Menteri, dan tengah mengumpulkan beberapa dokumen sbg modal utk tindakan hukum bilamana Bupati tidak menghentikan. Paramangudaon ini pun meminta kesediaanku manakala diperlukan.

 

Tu hamu sude dongan par milis pulosamosir, sian roha naserep hupangido, kami mohon, dukungan utk menggagalkan rencana Bupati Samosir utk membabat hutan Tele seluas 2000 HA, apapun alasan dan tujuannya. (Alasan Bupati, kawasan tsb masuk hutan produksi dan tujuan konversi ke kebun bunga adalah utk meningkatkan pariwisata). 

 

Tak usah pun dikaitkan ke persoalan global warming, kawasan hutan yg mengelilingi Danau Toba sdh tahap sekarat menurut kawan-kawan peneliti kehutanan! Kita tahu persis, hutan-hutan yg mengitari danau yg indah itu sdh terancam dan ekosistem di sekitarnya sudah rusak sejak perusahaan pulp di Sosor Ladang-Porsea beroperasi sejak thn 90-an, ditambah tindakan para pencuri kayu.

 

Masa depan danau kebanggan kita itu, asal-mula para leluhur manusia Batak itu, semakin terancam dan akan semakin hancur bila hutan-hutan yg mengitarinya dihabisi. Tegakah kita membiarkan danau, perbukitan, hutan, dan alam yg sudah menghidupi dan memberangkatkan manusia-manusia Batak utk meraih kemajuan itu dirusak oleh pihak-pihak yg hanya bertujuan meraup keuntungan bagi diri mereka? Saya yakin, tidak!

 

Untuk itu, saudara-saudaraku sekalian, kami imbau agar: IKUT MELAWAN SETIAP TINDAKAN YANG MERUSAK HUTAN DI BONA PASOGIT DAN YANG MENCEMARI DANAU TOBA!

 

Horas

……………………..

(yang lagi kecewa dan sedih)

 demikian isi dari email. Sangat menarik untuk ditindak lanjuti tentang masalah ini, bukan hanya masalah “global warning” akan tetapi juga masalah ketimpangan pada pemerintahan saat ini, banyak hal sebenarnya yang perlu ditelusuri tentang masalah ini. Melihat potensi yang sangat besar di samosir seharusnya bapk bupati sadar akan hal dilakukannya sekarang, karena efek jangka panjangnya sangat merugikan. Apakah ia tidak melihat tenggelamnya beberapa kota di indonesia sebagai santapan diTV. apakah dia tidak sadar  pentingnya fungsi hutan ?

ah sebelum saya terlalu jauh membahas ini, saya sebenarnya ingin memastikan benar atau tidaknya berita itu. dimanakah lokasi tepatnya, siapa saja yang telibat.

atau malah jangan-jangan ini terkait “black campaign” menjelang pemilihan Bupati yang tidak lama lagi.

siapa tahu ? ah ………..sebaiknya saya pastikan dulu saja

About these ads

Februari 14, 2008 - Posted by | Uncategorized

25 Komentar »

  1. beeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeeh…..anggo hu pikkiri do appara…memang sangat tidak layak apa yang dilakukan oleh bupati samosir…..marningot hu tao toba sebagai objek wisata terutama do di samosir….adalah sangat tidak layak..anggo memang laho manambai keunikan nilai pariwisata dari toba bukan dengan merusak yg sudah ada, tetapi dicoba membenahi yg sedang berantakan…seperti appara bilang klo ternyata masih banyak hutan gundul disekita danau toba…kenapa tidak itu az yg mereka benahi menjadi bukit bunga yg indah ala tao toba…

    ayo pra….tetap pertahankan kealamian dari tao toba kita….klo ga kita2 yg perduli dgn to toba dang adong be halak na lain…..HORAS….

    Komentar oleh holand simarmata | Februari 15, 2008 | Balas

  2. saya dukung usahanya lae. tetap semangat perjuangkan tanah kita, bagaimana mungkin kita akan kembali ke lumban suhi suhi jika semua tinggal kenangan. terus berjuang lae
    bersama tim lainnya

    Komentar oleh satya sembiring | Februari 25, 2008 | Balas

  3. Salam Ganesha!

    Kabinet KM ITB mengajak seluruh teman-teman untuk mengikuti:
    – Mimbar Bebas, Kamis 28 Februari 2008, 16.30-17.30 WIB
    – Long march, Sabtu 1 Maret 2008, 9.00-selesai

    Kedua acara ini memiliki tema, “Keprihatinan Atas Kondisi Bangsa”.

    Tidak dibatasi oleh angkatan, jurusan, himp/non-himp, unit.. Jadi
    selama masih kuliah di ITB boleh ikut..
    Untuk yang mau mengikuti aksi massa, pakai segala yang beratribut ITB,
    mau jas almamater, jaket himpunan, jaket unit, jaket TPB, dll.
    Tunjukkan eksistensi dan keberagaman kita…

    Untuk Tuhan, Bangsa dan Almamater, Merdeka!

    Kabinet KM ITB 07/08

    numpang promosi ya,,
    kan kita masih satu ITB…
    hehehe..

    Komentar oleh gredinov | Februari 27, 2008 | Balas

  4. beuh.. kupikirnya kw yang pergi ama sianipar family.. hehe..

    tapi kalo email itu bener, rasa2nya pengen kujitak aja bupati samosir tu.. dimana2 kalo uda jd pejabat, seenak jidat dia aja bikin keputusan.. yg penting duit coy..
    taman bunga,, untuk apa lah itu?? paling kalo dah dibangun, 5 taun lagi udah ga keurus.. ga punya dana buat ngurus.. like always,,

    hehe..
    oiy, maninov itu kuliah Manajemen Inovasi, episode 1 artinya kuliah pertama.. aku baru masuk 2 kali jadi ntar kalo ada kuliah2 lagi, isinya bakal ku post lah.. hehe..

    horas!!

    Komentar oleh elisasirait | Februari 28, 2008 | Balas

  5. Saya rasa, tidak perlu lagi kita banyak komentar dan saran, yang perlu sekarang ini ayo temui bupati dan klarifikasi apa maksud dan tujuannya. Dan ada apa dibalik itu semua sehingga beliau rela membungihanguskan 2,500 ha hutan hanya untuk kebun bunga? Bunga apa? Tidak masuk akal sehat.

    Komentar oleh Marihot Sirait | Maret 7, 2008 | Balas

  6. hmm
    saya tidak tahu maksud sodara mengirimkan komentar seperti ini apa…
    permisi numpang berita dulu ya !!!!!
    [penting soalnya ini]

    tolong disebarkan ya

    Wakil Bupati Samosir : “No Comment” Soal Hutan Tele

    KETIKA para pecinta lingkungan berteriak marah, lantaran hutan alam Tele dibabat dengan semena-mena, Ober Sagala hanya bisa mengatakan : No Comment. Kasihan! Karena sebenarnya, politisi Partai Demokrat ini punya dua dasar kewenangan, untuk menghentikan penebangan hutan alam itu.

    Kewenangan pertama, karena kampung halamannya, Desa Sagala, berada persis di bawah perbukitan hutan Tele. Apabila nantinya hutan itu sudah dipangkas habis, kemungkinan terjadinya longsor sangat besar, dan bisa jadi kampungnya bakal terkubur. Kewenangan kedua, karena Ober Sagala adalah Wakil Bupati Samosir.

    Lalu kenapa dia hanya bisa bilang : No Comment ?

    Tampaknya Wakil Bupati ini merasa sungkan dan ewuh pakewuh, kalau harus mengeluarkan pendapat yang terkesan mengkritik atau menyalahkan Bupati Mangindar Simbolon. Mungkin dia beranggapan, selaku Wakil Bupati tidaklah pantas baginya menimbulkan kesan kepada pihak luar, bahwa antara dirinya dan Mangindar sudah pecah kongsi.

    DARI sebuah sumber yang dekat dengan Wakil Bupati diperoleh informasi yang mengejutkan, ternyata Ober Sagala merasa ditinggal oleh Mangindar Simbolon dalam proses lanjutan proyek hutan Tele. Dia memang pernah dilibatkan ketika PT ESJ, sang investor asal Korea, mempresentasikan berbagai keuntungan dan manfaat yang bakal dinikmati Kabupaten Samosir, apabila hutan Tele dijadikan kebun bunga untuk komoditas ekspor.

    Namun dalam proses selanjutnya, sampai kemudian penebangan hutan itu menimbulkan heboh, ternyata Wakil Bupati Ober Sagala tidak dilibatkan lagi. Bahkan yang paling mengejutkan, ternyata Ober Sagala selaku Wakil Bupati tidak memiliki akses terhadap data proyek kebun bunga yang kontroversial itu.

    Kenapa bisa begitu? Kok Bupati Mangindar Simbolon jadi main sendiri ? Tidak diperoleh jawaban yang memuaskan dari Ober mengenai hal ini. Dia menolak untuk memberikan jawaban yang jelas.

    Sangat disayangkan sikap yang dipilih Wakil Bupati Samosir itu. Menjaga etika politik boleh-boleh saja, namun yang lebih penting adalah tanggung jawab kepada rakyat. Perilaku politisi yang saling menutupi seperti itu hanya berguna bagi karir politik mereka sendiri, tapi bisa menjadi sumber bencana bagi masyarakat.

    Sebagai Wakil Bupati, apalagi di era demokrasi ini, Ober Sagala seharusnya bisa membawakan diri sebagai figur yang punya otoritas dan integritas. Jabatan Wakil Bupati itu bukanlah seperti asisten pribadi, yang ikut saja apa kata bos; karena bos tertinggi sebenarnya adalah masyarakat Samosir.

    Masih ada waktu bagi Ober Sagala untuk memperbaiki sikapnya yang keliru. Setidak-tidaknya secara internal dia bisa meminta Bupati mengadakan rapat dan kemudian menanyakan perihal hutan Tele. Kalau ternyata hal itu tidak diindahkan oleh Bupati, tidak ada salahnya Ober membuat pernyataan kepada masyarakat; jika memang ada kejanggalan prosedur dalam proses keluarnya izin penebangan hutan Tele.

    Kalau Wakil Bupati tetap bungkam, maka masyarakat Samosir dan para perantau Batak di seluruh dunia akan menganggap Ober Sagala ikut bertanggung jawab atas pembabatan hutan Tele.

    tolong berikan penjelasan….

    willmen46
    willmen46@gmail.com
    http://www.willmen46.wordpress.com

    Komentar oleh willmen46 | Maret 7, 2008 | Balas

  7. hi…silent is golden…

    Komentar oleh merdi sihombing | Maret 9, 2008 | Balas

  8. Trims banyak, mas rajasimarmata atas infonya. Mungkin jika pak Mangindar (Bupati Toba Samosir) bisa lebih arif dan bijak dalam permasalahan tata ruang Danau Toba dan Pulau samosir yang notabene wilayahnya sendiri, permasalahan pemalakan ini tidak akan berlarut-larut. Terlebih lagi jika mengingat background beliau yang dari agriculture, pak mangindar semestinya peka terhadap aksi-aksi yang sifatnya destruction terhadap sustainability forest. Bu Ir. Poppy Hutagalung BAPPEDA Sumut(AR 88) apa bisa memediasi permasalahan Tata Ruang Toba? He he..

    Komentar oleh afriyanto | Maret 13, 2008 | Balas

  9. banyak orang yang dibutakan dengan uang.. hehe..

    Komentar oleh elisasirait | Maret 17, 2008 | Balas

  10. pembalakan liar telah menjadi boomerang dan dapat dianggap sebagai serangan terorisme di indonesia.
    sudah sepantasnya hukum dalam pembalakan liar di perketat dan di perberat bagi orang-orang yang terlibat didalamnya, agar nanti hutan indonesia hijau kembali….

    horas,,horas,,,

    Komentar oleh parlin sinaga | Maret 17, 2008 | Balas

  11. ….ehm….sekalipun bukan orang Sumatera tapi aku sudah hampir 1 tahun tinggal di sana dan aku juga pernah berkunjung ke Toba seperti yang ada di peta itu..

    Komentar oleh Wita Ardhani | Maret 21, 2008 | Balas

  12. Menebang hutan, untuk sekuntum anggrek :-(

    Menebang hutan di Tano Batak untuk bisnisnya orang korea.
    Banyak bisnis orang korea di Indonesia yang bahan baku utamanya kayu. Mereka memproduksi alat alat musik, kayu lapis dll
    Kayunya dari mana ???

    Kayu dari hutan Tele mau dibawa kemana?
    Diganti dengan sekuntum angrek yang hanya bisa bertahan selama seminggu.

    Komentar oleh Charlie M. Sianipar | April 11, 2008 | Balas

  13. bupati te..do sisongoni,hu korek do pinggol nai molo hubereng ibana,nion au alamat jogjakarta.siap menantang.ai ise do haroa na porlu??holan bupati na nengel i do manang rakyat banyak??na tumbu di jakarta do ra bubati samosir i??na so hea do ra i antusi ibana tu dia lapatanni tombakki.ima bupati na so hea mangantusi.holan hepeng do dipingkkiri.

    Komentar oleh edis sidabuatar | November 28, 2008 | Balas

  14. Horas Ito
    Wah report kalau tidak pikir panjang yach.
    tolong sampaikan ke bupati Pulau Samosir, Jangan sampai boru samosir ambil tindakan… and Anak samosir ambil langkah wah repot dech…
    Harus berfikir pajang dong,,, karena bisa akibat polusi berat and erosi tanah di Pulau… karena dibawahnya air semua….harap Bapak Bupati… pertimbangkan untuk kestabilan bumi di Pulau Samosir…. .. Untuk taman bunga bisa di programkan…kalau kedaaan pulau sudah teratur….dan untuk Korea masuk ke Samosir bisa di buat untuk kemajuan Pulau Samosir juga… Tanah tetap Milik Samosir dan Korea hanya pakai tanah dan harus bayar untuk pemakaian dan keuntungan harus 50-50..
    Tolong di pertimbangkan lagi… terima kasih…
    Tuhan Memberkati…Horas ma

    Komentar oleh Jenny Samosir | Februari 27, 2009 | Balas

  15. Ito tolong dikabarin.. jawabannya yach terima kasih..

    Komentar oleh Jenny Samosir | Februari 27, 2009 | Balas

  16. Mari kita berfikir positip thinking dululah, diteliti dulu sebelum memberi komentar, karena menurut saya Bupati melakukan suatu hal sudah dengan pertimbangan yang matang bersama jajarannya. Jika menurut penelitian bahwa kebijakan Bupati tersebut kurang tepat maka saya ikut serta memprotes Bupati tersebut.

    Kepada Lae Simarmata, apa yang lae lakukan menanam tanah-tanah kritis adalah tugas mulia, saya dukung. Menurut saya teruslah berkarya dan menanami lahan-lahan kritis, saya siap mendukung, bila perlu saya ikut timnya Lae. Trims.

    Komentar oleh PANGERAN SOJUAON PANDIANGAN,S.HUT | Mei 17, 2009 | Balas

    • @pangeran sojuaon
      terimaksih sudah menanggapi lae, kita memang sudah berupaya berpikir positif. bahkan analisisnya sudah kita uraikan.
      terimakasih atas dukungan lae, kaau boleh tahu berapa nomor kontak lae ? alamat dimana ?
      kita mau melakukan kegiatan pendidikan peduli di kabupaten samosir

      Komentar oleh rajasimarmata | Juni 3, 2009 | Balas

  17. Mas,neng…Mba,om,tante..
    Jangan negativ think gt dhong..

    Bupati samosir itu, juga manusia yang punya otak,punya pikiran, berpendidikan, jadi mana mungkin ada niatnya untuk menghancurkan ‘rumah’ sendiri, dia mau tinggal dimana…?

    Coba ambil sisi positif nya, jalan dr tele-pangururan udah mulai diperbaiki, berbagai acara/pertandingan yg bersifat internasional udah di laksanakan, bahkan yang terakhir ne, pesertanya udah ada dari luar negri, dgn dmikian bupati samosir bukan hanya mnambh k’untungan samosir, juga udh mnambh k’untungan negara..

    Ingat …
    Bupati itu orang cerdas, jenius..
    Gak mungkin dia jadi bupati kalau pikiran nya sedangkal yang kalian pikirkan itu..
    Tentu, dia udah mikirkan apa akibat dan keuntungan nya..
    So… Jadi rakyat jangan sok lah…

    Memang gak salah, keberatan kalau hutan di samosir di babat,tapi protesnya jangan kaya orang gak berpendidikan..
    Kalau keberatan, mengapa tidak menjumpai bupatinya saja..

    Soal menanam pohon..
    Itu sebenarnya bukan hal yang sulit…
    Seandainya kita mau menanam 1 pohon saja di pekarangan/halaman/tanah/areal kita masing-masing,

    coba hitung ..Sudah berapa banyak pohon yang kita tanam..
    Jadi, kita jangan cuma cas,cis cus doang.. Krja dulu baru protes..

    Komentar oleh Harrys | Juni 20, 2009 | Balas

    • @haryys
      bukannya negatif thingking, tapi ga salahkan kita berpendapat ?

      Komentar oleh rajasimarmata | Juni 20, 2009 | Balas

      • bos,,harrys..kalo melihat tulisan sebelumnya,,teman2 di toba dream punya dasar atas komplain mereka,,karena teman2 di toba dream punya konsultan yg ahli di bidang kehutanan dan sudah menyatakan bahwa kondisi hutan di sekitar danau toba sekarat..Dan setau saya juga sudah banyak hutan alam Indonesia yg terkonversi menjadi lahan garapan yang dijadikan menjadi lahan perkebunan ataupun dijadikan sebagai sektor wisata seperti yg telah dicanangkan oleh pemda Samosir ini (kalo berita itu benar). Sangat memprihatinkan apabila hutan yg menjadi paru2 dunia selalu dieksploitasi. Bencana kadang2 tak dapat diduga mas…anda sudah lihatkan bencana baru2 ini telah terjadi di samosir?dan pihak pemda sepertinya tidak melakukan suatu tindakan yg reaktif. Jadi saya pikir teman2 dari Toba Dream punya niat melakukan pencegahan sejak dini.

        Komentar oleh barat | Juni 16, 2010

  18. Bang Raja, Dosenku pernah bilang.
    kenapa hutan di Indonesia semakin rusak dan semakin-semakin hancur????
    alasannya adalah karena orang-orang pintar di Bidang kehutanan. saya sebagai Mahasiswi Jurusan Konservasi Sumberdaya HUtan dan Ekowisata IPB sedikit banyak tahu tentang dunia Kehutanan. Pak Mangindar adalah Senoir saya di IPB, Dosen-dosenku juga bercerita pada saya tentang Proyek Pak Mangindar membuat Taman Bunga yang di Tele. Dosenku bilang, Pak Mangindar kurang Bijak karena apa yg dilakukannya tidak sesuai dengan prinsip dan kode atik sebagai FORESTER (RIMBAWAN) IPB.
    Miris sih membaca cerita abang yg diatas.

    Aku sangat ingin bergabung dengan TOBA DREAM ini, karena ku juga punya impian yang sama untuk kampung tercintaku.
    semuanya sudah terjadi,
    aku setuju dengan saran2 teman dan abg juga untuk menghentikan Proyek dr KOrea tersebut, sebelum semua hutan Tele habis dibabat atau kalo tidak longsor dan kerusakan lainnya akan menyusul menimpa rakyat samosir.
    Mungkin itu aja bng, masuka dari saya. Terima Kasih

    raja:
    Terimakasih atas niat baikmu de,
    Ini tanggung jawab bersama, walaupun kesalahannya bukan bersama.
    ,au tidak mau generasi kita kedepan harus berperan lebih baik dari sebelumnya
    Semoga impianmu cepat terlaksana de
    Keep kontaklah kita semua

    Komentar oleh Evenin Rosa Naibaho | Agustus 18, 2010 | Balas

    • Bang Raja,,,Kalo bisa bang tentang perkembangan pariwisata kita juga diekspos yah…
      Aku sangat tertarik dan sedang melakukan research dibidang wisata di Pulau Samosir buat Skripsiku…
      aku berharap melalui research ku nanti boleh memberikan sumbangan pemikiran dan ide buat kebaikan dan pengembangan Kabupaten samosir sebagai daerah pariwisata yang berbasis Konservasi…AMIN…
      doakan ya bng…
      Mkasih bng

      Komentar oleh Evenin Rosa Naibaho | September 11, 2010 | Balas

      • @Evenin
        Oke ito, nanti saya usahakan ditulis. oh iya ada juga teman kita yang buat Tugas Akhir tentang wisata samosir, nanti saya coba hubungi dia.

        Oh iya, salut dengan komen ito

        Komentar oleh rajasimarmata | September 12, 2010

  19. Rencana Buapti harus di tolak keras

    Komentar oleh Alpred | April 19, 2011 | Balas

  20. Silahkan diagendakan Debat Publik dengan menghadirkan para pakar dibidang hutan, ttg alih fungsi Hutan Tele tsb. Apakah keuntungan (Multiflier effect) yang diterima oleh masyarakat samosir bisa menutupi kerugian Alih fungsi hutan tersebut. Dan itu hrs jelas secara kuantitatif dan kualitatif.

    Komentar oleh S. Bungaran Sinaga | Juni 16, 2011 | Balas


Tinggalkan Balasan

Isikan data di bawah atau klik salah satu ikon untuk log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Logout / Ubah )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Logout / Ubah )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Logout / Ubah )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Logout / Ubah )

Connecting to %s

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.

%d bloggers like this: