mychoice

my choise make me life

pembalakan hutan 2000HA di TELE Kab. Samosir ??????

Batulkah akan ada pembalakan hutan di daerah tele ?

berikut saya copy email dari seorang sahabat yang berdiskusi disalahsatu milis :

peta samosir

Mari Kita Lawan !!!

Horas ma di hamu sude dongan par Samosir. Tgl 6 Februari lalu, saya dan lima teman (Viky Sianipar, Bismark Sianipar, Charlie Sianipar, Ganda Simanjuntak (Medan), dan sahalak bule Perancis, Laurent), atas nama komunitas Tobadream Jkt, pulang ke Samosir untuk menyiapkan ‘Tobadream Conservation Program’ (TCP).  Di Desa Martoba, Simanindo, kami menyiapkan perjanjian dng pemilik tanah yg sukarela menyerahkan 2 HA tanahnya utk ditanami pohon, mengadakan pertemuan dng teman-teman peneliti voluntir dari Badan Penelitian Kehutanan (BPK) Aek Nauli, Parapat. Juga melakukan sosialisasi dng orang-orang setempat (termasuk politisi-politisi lokal) dan Pemda (Bupati Samosir).

 

Kami juga menjelajahi dataran tinggi Samosir (Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan) dan mengelilingi Samosir hingga daerah Lagundi-Onanrunggu utk memetakan lahan kritis, dan, atas nama pribadi, mencari anak-anak asuh yg secara ekonomis kesusahan meneruskan sekolah. Untuk sementara, kami menyerahkan ke pastor Bernardus Sijabat dari gereja Katolik Paroki Pangururan. Beliaulah yg kami putuskan menyalurkan ‘aek santetek’ ke saudara-saudara kita, anak-anak di desa Sijambur, Salaon Dolok, Sidihoni, Ronggur Nihuta, Parmonangan, yg sangat memerlukan bantuan biaya sekolah.

 

Juga kami temui seorang perajin eceng gondok di Pangururan (Gurning) dan membuat kerjasama utk membantu penjualan produknya di Jkt sekalian membantu disain yg lebih menarik agar diminati kaum muda Jkt. Pertemuan dng Bupati Samosir di rumah dinasnya dilakukan Viky dan Charlie, sementara saya dan Bismark menjelajahi Urat-Sipinggan dan melakukan pemotretan. 

 

Sebagaimana pertemuan kami di Jkt tiga bulan lalu dng Bupati Samosir, keinginan dan maksud kami menggugah warga (terutama para perantau) agar menggiatkan penghutanan kembali daerah Samosir dan sekitar Danau Toba melalui TCP, mendapat dukungan. Kami senang dan tak lupa menekankan bhw program TCP murni swadaya, tak akan membebani keuangan Pemda. Kami hanya mengandalkan partisipasi pribadi-pribadi yg tergerak hatinya utk membantu membeli bibit pohon dan biaya perawatan (menggaji tenaga lokal), dan  tiap rupiah yg kami terima harus bisa dipertanggungjawabk an.

 

Tak dinyana, malam sebelum kembali ke Jkt (9 Feb), kami bertemu dng seorang parnamboruan yg membuka kedai makan di Pangururan. Tanpa bicara panjang lebar, namboruku ini (Ny. Siregar br Situmorang) menyampaikan sebuah berita yg mengejutkan, yakni: Bupati sdh memberi izin ke sebuah perusahaan Korea utk membabat 2000 HA hutan Tele utk dijadikan kebun bunga! Warga Tele dan pemegang hak ulayat (marga Situmorang dari Harianboho, Baniara, Tele, mayoritas keluarga dekat sastrawan Sitor Situmorang) sudah mengajukan protes dan melakukan perlawanan. Namboruku ini pun lantas memintaku agar turut jadi pengacara pemegang hak ulayat (ditambah pengacara lain) untuk menggugat Bupati Samosir. Mendengar berita tsb, saya dan kawan-kawan langsung lemas! Terjadi semacam antiklimaks atas rencana penanaman pohon di Samosir yg dijadwalkan mulai 3 Maret 08. Berulang-ulang saya tanya kebenaran berita tsb,  namboruku itu kemudian memberi dua no.hp paramangudaon di Jkt agar saya hubungi. Malam itu pun langsung kami hubungi teman-teman di Pangururan utk verifikasi karena tak mungkin lagi berangkat ke lokasi (Tele). Ternyata mereka sudah tahu, bahkan pengakuan mereka sudah beberapa kali dimuat di koran-koran terbitan Sumut.

 

“Bah! Ngeri nai puang namasaon!” ucapku spontan.

 

Jelas, kami SANGAT KECEWA. Rencana melakukan penanaman pohon di atas lahan 2 HA, yang kami harapkan akan menjadi semacam “virus” positif bagi seluruh warga dan perantau Samosir dan wilayah-wilayah di Tano Batak utk melakukan hal yg sama, jadi sesuatu yg absurd, dilecehkan, dan “si parengkelon” .

 

Minggu siang (10 Feb), kami ketemu dua teman jurnalis, yakni Alvin Nasution (wartawan Metro Tapanuli/Metro Siantar) dan Andi Siahaan (wartawan dan kontributor Trans TV) di kedai kopi Koktong Siantar dan kemudian menanyakan kebenaran berita tsb. Mereka membenarkan berita tsb dan kata mereka sdh pernah ditulis sebagian pers Sumut. Malamnya di Medan, di rumah Grace Siregar (penggagas Galeri Tondi), kami ungkapkan berita tsb pada teman-teman yg sudah kumpul di sana (Thomson Hs, Alister Nainggolan, Miduk Hutabarat, dll). Mereka pun mengaku sudah mendengar tsb.

 

Setiba di Jkt, dari bandara, saya kirim SMS ke Batara Situmorang (salah satu pewaris hak ulayat) utk menanyakan masalah tsb sekalian langkah-langkah yg sdh mereka tempuh. Jawabannya, mereka sdh menyurati Bupati, beberapa Menteri, dan tengah mengumpulkan beberapa dokumen sbg modal utk tindakan hukum bilamana Bupati tidak menghentikan. Paramangudaon ini pun meminta kesediaanku manakala diperlukan.

 

Tu hamu sude dongan par milis pulosamosir, sian roha naserep hupangido, kami mohon, dukungan utk menggagalkan rencana Bupati Samosir utk membabat hutan Tele seluas 2000 HA, apapun alasan dan tujuannya. (Alasan Bupati, kawasan tsb masuk hutan produksi dan tujuan konversi ke kebun bunga adalah utk meningkatkan pariwisata). 

 

Tak usah pun dikaitkan ke persoalan global warming, kawasan hutan yg mengelilingi Danau Toba sdh tahap sekarat menurut kawan-kawan peneliti kehutanan! Kita tahu persis, hutan-hutan yg mengitari danau yg indah itu sdh terancam dan ekosistem di sekitarnya sudah rusak sejak perusahaan pulp di Sosor Ladang-Porsea beroperasi sejak thn 90-an, ditambah tindakan para pencuri kayu.

 

Masa depan danau kebanggan kita itu, asal-mula para leluhur manusia Batak itu, semakin terancam dan akan semakin hancur bila hutan-hutan yg mengitarinya dihabisi. Tegakah kita membiarkan danau, perbukitan, hutan, dan alam yg sudah menghidupi dan memberangkatkan manusia-manusia Batak utk meraih kemajuan itu dirusak oleh pihak-pihak yg hanya bertujuan meraup keuntungan bagi diri mereka? Saya yakin, tidak!

 

Untuk itu, saudara-saudaraku sekalian, kami imbau agar: IKUT MELAWAN SETIAP TINDAKAN YANG MERUSAK HUTAN DI BONA PASOGIT DAN YANG MENCEMARI DANAU TOBA!

 

Horas

……………………..

(yang lagi kecewa dan sedih)

 demikian isi dari email. Sangat menarik untuk ditindak lanjuti tentang masalah ini, bukan hanya masalah “global warning” akan tetapi juga masalah ketimpangan pada pemerintahan saat ini, banyak hal sebenarnya yang perlu ditelusuri tentang masalah ini. Melihat potensi yang sangat besar di samosir seharusnya bapk bupati sadar akan hal dilakukannya sekarang, karena efek jangka panjangnya sangat merugikan. Apakah ia tidak melihat tenggelamnya beberapa kota di indonesia sebagai santapan diTV. apakah dia tidak sadar  pentingnya fungsi hutan ?

ah sebelum saya terlalu jauh membahas ini, saya sebenarnya ingin memastikan benar atau tidaknya berita itu. dimanakah lokasi tepatnya, siapa saja yang telibat.

atau malah jangan-jangan ini terkait “black campaign” menjelang pemilihan Bupati yang tidak lama lagi.

siapa tahu ? ah ………..sebaiknya saya pastikan dulu saja

Februari 14, 2008 Posted by | Uncategorized | 25 Komentar

   

Ikuti

Get every new post delivered to your Inbox.